Friday, July 14, 2006

About Episode IV, The Novel

Niskala, tokoh sentral dalam novel ini sebenarnya hanya hidup dalam beberapa chapter. Selebihnya hanyalah menampilkan puisi-puisinya yang legendaris itu, yang disusun kembali oleh salah seorang groupie sekaligus manajer bandnya (Samantha Impossible Dream), If. Dalam puisi-puisi itu terungkap bahwa If sebelumnya pernah ditemui Niskala sebagai wanita khayalannya yang bernama Samantha, yang kemudian menjelma menjadi boneka seks yang terasuki ruh Eva, yang baru saja diusir dari surga karena memakan buah terlarang, khuldi.

Selain puisi, If juga menambahkan beberapa tulisan Niskala yang dia temukan dalam arsip-arsip yang menumpuk dalam laci kamar Niskala. Dari arsip inilah kemudian muncul tokoh-tokoh baru, diantaranya adalah tentang sepasang suami istri yang sedang dalam proses perceraian, Cerio dan Termina. Selain itu juga ada beberapa diari Niskala yang dikisahkan kembali oleh If menjadi beberapa narasi sehingga akhirnya tersusun menjadi sebuah novel yang diberi judul Episode IV, mengikuti salah satu judul essay (diari) Niskala yang kemudian ditempatkan pada Chapter I.

Kejadian rumit kemudian berlangsung dengan putaran yang cepat dan alur yang berantakan. Lingkaran setan percintaan kemudian menggilas semua tokoh yang terlibat dalam novel ini.

Lompatan waktu dan sejarahpun semakin mewarnai kisah-kisah yang dialami setiap tokohnya. Termasuk didalamnya ketersesatan salah satu tokoh dalam labirin yang dibuatnya sendiri. Serta ada semacam penyakit kejiwaan schizophrenia yang disusun dengan perencanaan yang matang oleh salah satu tokoh sehingga melanda tokoh yang lain.

Dibagian akhir novel dikisahkan dua orang lelaki yang sedang memperbincangkan keanehan novel Episode IV, yaitu mengenai hilangnya Chapter XIV. Serta ada tambahan Bonus Track, petikan wawancara seorang wartawan majalah musik dengan Niskala sebelum “Bunuh Diri”.

Novel Episode IV ditampilkan dalam berbagai bentuk dan gaya, sehingga menjadi sangat dinamis dan rumit. Diantaranya puisi, essay, cerpen, prosa liris, skenario film, wawancara, lirik lagu, narasi dan bentuk-bentuk tulisan yang absurd dan skizoprenik. Alur yang dibuat sangat berantakan, labirin-labirin cerita dibangun dengan sangat rumit, terjadi pembiasan antara realitas fiksi, fakta dan penumpukan imajinasi, adanya peleburan dunia nyata dan maya, waktu yang dipersepsikan dengan sangat absurd, menempatkan chapter-chapter pada tempat yang tidak biasa, serta permainan tokoh aku-an dan dia-an sangat kentara dalam novel ini.

Kekuatan lainnya dapat ditemukan dalam gaya bahasanya yang berubah-ubah, bias dan atraktif. Beberapa cacat metafora seperti sengaja dihadirkan untuk melepaskan diri dari kekakuan bahasa dan kejenuhan akan frase-frase yang biasa. Juga akan ditemukan beberapa pengulangan cerita untuk menghadirkan kembali sebuah cerita yang sama dalam medium dan dimensi yang berbeda. Gaya repetisi ini diangkat untuk memberikan sudut pandang baru terhadap beberapa bagian yang dianggap terlalu subyektif.

Novel Episode IV menawarkan sebuah terobosan baru baik secara bentuk, gaya penulisan, teknik penceritaan ataupun tema dalam khazanah kesusasteraan di Indonesia.

Banyaknya wilayah kosong dan tak terjelaskan, sangat memungkinkan novel ini untuk terus dikembangkan dan diwacanakan dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah FanFict, sebuah jurnal yang berisi fiksi-fiksi yang dibuat oleh para pembaca yang isinya berkaitan dengan cerita yang ada dalam Episode IV atau mengisi kekosongan-kekosongan tadi dengan berbagai corak dan interpretasi yang bebas, tentu saja. Bahkan ada diantaranya yang sangat personal ditujukan untuk author Episode IV.

Komentar Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto (Budayawan, Pengajar di jurusan filsafat Universitas Parahyangan) untuk Episode IV:

“Ada kandungan substansi serius dibalik bentuknya yang schizophrenic. Ada mistisisme gila dan terpelajar dibalik kekacauannya.”

Editor's FictFact


Wilayah hiper-realitas ternyata mempunyai lawan yang cukup tangguh, meski tidak populer, wilayah itu kunamakan hiper-imajiner.

Imajinasi, seperti juga realitas, bisa mengalami penumpukan-penumpukan, penyalipan-penyalipan bahkan juga bisa merasuk ke dalam realitas atau imajinasi seseorang. Dalam hal ini dunia fiksi sahabat-sahabatku sehingga terjadi, bahkan merasuk ke dalam realitasnya juga untuk beberapa sahabat, sebuah irisan atau pertautan dua buah fiksi lantas menjadi dunia baru yang eksis dalam kepala kami (mungkin nanti anda).

Dunia fiksi dalam novel Episode IV ini terus berkembang ketika ada banyak cerpen-cerpen dari banyak orang dan orang-orang ini memiliki hak-hak absolut untuk cerita, bentuk dan tokoh-tokoh yang mereka buat. Bahkan sah apabila ada klaim bahwa novel ini pada akhirnya milik bersama.

Kalau Tolkien menciptakan dunia fiksi Lord of The Rings sendirian dengan kepalanya sendiri, maka dunia fiksi Episode IV tercipta oleh banyak orang dengan banyak kepala, meski pada awalnya diciptakan olehku sendiri.

Novel ini menjadi terurai dan cair dengan cerpen-cerpen tribute-nya.

Ini adalah sebuah perayaan fiksi yang layak kita rayakan bersama. Fiksi ini milik kita semua!


Regards

ERVIN RUHLELANA

>>Lazuardi


PIL PAHIT


ANGIN mencubiti dedaunan, menyapa malam, dinginnya melesak ke ubun-ubun kota Paris Van Java, bersemayam dalam hati seorang pria, yang tengah termangu di sebuah taman. Pandangannya menerawang tembus ke depan tak bertepi, di tangannya tergenggam secarik kertas kumal, seperti sebuah surat. Mata pria itu sembab, habis menyelesaikan sebuah tangisan penyesalan yang begitu dalam.

Pria berusia 25 tahun itu, datang dari sebuah kota kecil, baru sehari sampai di kota Bandung. Kedatangannya ke kota ini dengan satu tujuan, mencari ibu kandungnya yang tak pernah ia ketahui wajahnya;

Ketika ia baru lahir ke dunia, kepahitan hidup sudah harus ia lakoni, ayah kandungnya, menurut para tetangga di desanya, mati dibunuh perampok saat pulang dari sebuah rutinitas pekerjaannya sebagai penjudi kartu di kampung sebelah. Konon kematian ayahnya disyukuri para tetangga.

Kepahitan hidup terus menghampirinya, sang ibu kandung meninggalkannya saat ia masih berusia satu tahun, lantaran tidak tahan dengan ocehan orang-orang yang selalu menyingkirkan ibunya dari kehidupan disana. Ia pun diasuh dan dibesarkan oleh kakek dan neneknya yang dengan penuh kasih sayang mengurus serta memberi pendidikan yang cukup untuk ukuran orang desa.

Menurut Kakek, ibunya termasuk kembang desa yang cantik, hanya nasibnya kurang beruntung, ibunya dinikahi ayahnya yang pemabuk dan penjudi, padahal banyak lelaki anak juragan yang naksir. Takdir memang suka berbicara lain.

Bahkan ketika ayahnya mati, masih banyak lelaki yang iseng menghampiri ibunya, menggoda agar mau dinikahi. Namun ibunya tidak mau menikah lagi, katanya masih trauma, setelah gagal menggayuh rumah tangga dengan ayahnya. Puluhan lamaran ditolak, puluhan lelaki sakit hati, hingga datang malapetaka itu.

Suatu hari, ibunya tengah mandi di kali, tidak jauh dari rumah, tiba-tiba seorang lelaki anak juragan tani terkaya di kampung itu datang menghampiri dan berusaha memperkosa ibunya, sang janda cantik berusaha berontak hingga lelaki itu gagal melampiaskan nafsu syetannya. Rupanya, si lelaki itu malah mengabarkan cerita lain pada penduduk desa, bahwa ibunya telah berusaha menggodanya agar mau dinikahi.

Lebih buruk lagi, ibunya difitnah telah mencuri pakaian yang tengah dijemur di halaman rumah lelaki kurang ajar itu. Akhirnya, wanita malang itu menjadi bahan caci maki penduduk, menjadi cemoohan setiap saat. Wanita penggoda, pencuri, sundal dan lain-lain. Untuk menghilangkan kesakithatiannya, akhirnya ia pergi meninggalkan desa itu, entah kemana.

Puluhan tahun, cerita itu terkubur dalam sejarah tak berbuku, ibunya menghilang tanpa ada kabar berita, pria malang itu pun besar dan tumbuh menjadi jejaka yang sehat, tidak terlalu tampan namun berperawakan tegap. Kulit hitamnya menunjukan bahwa dia pekerja berat. Karena memang di desanya tiap hari mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya, tidak malas bekerja dan rajin membantu tetangga.

Sebagai lelaki normal, ia jatuh cinta dan pacaran dengan seorang gadis desa, Maryati. Percintaan keduanya adalah percintaan lugu dua mahluk desa, tidak diiringi dengusan nafsu birahi, meskipun mereka sempat berciuman di pematang sawah. Estuning cinta sejati dua sejoli yang berjanji akan sehidup semati.

Kepahitan, lagi-lagi mengakrabinya, ketika seminggu lagi pernikahan akan dilangsungkan, Maryati meninggal dunia dengan kondisi yang menyedihkan, mayatnya ditemukan penduduk sudah membeku di pinggir kali dengan mulut bebusa, wajahnya membiru. Maryati tewas dipatuk ular saat ia mencuci pakaian.

Bayangan hidup indah bersama gadis pujaannya sirna, kembali ia hidup dalam kepedihan, sendirian menyulam hari-hari bersama burung-burung di hutan, bersama ikan-ikan di kolam milik nenek dan kakek, di pematang sawah tempat ia dulu berciuman dengan Maryati, di keluguan bau keringat para petani.

Sebulan setelah itu, Kakeknya meninggal, disusul kemudian neneknya. Maka lengkaplah kepedihannya, hidup sendiri. Namun di akhir hayatnya, neneknya pernah berpesan agar ia mencari ibunya ke kota Bandung, karena kata nenek, ibunya pernah bercerita kalau suatu hari ia ingin tinggal dan bekerja di Bandung.

Sebelum menghembuskan nafas, neneknya memberi sebuah cincin perak yang bertuliskan nama ayah dan ibunya, cincin itu adalah milik orangtuanya saat melangsungkan pernikahan, mereka mengabadikan nama keduanya di cincin itu, bentuk dan hurup di cincin itu khas, yang dibuat seorang pandai besi di desanya.

* * * *

Setelah pikirannya mulai ajeg, tidak lagi galau oleh perasaan yang tak menentu. Ia pergi meninggalkan desa, menuju Bandung.

Sepanjang pencarian, berbekal harapan akan bertemu ibu kandungnya, ia tak tahu kemana dan dimana ibunya berada. Siang kemarin tiba di terminal Cicaheum, lalu berjalan kaki menyusuri trotoar jalan, sesekali istirahat makan dan minum di warung tagal. Belum genap lima jam, rasa putus asa sudah menggerogoti hatinya, mau bertanya pada orang-orang, tidak mungkin, sebab orang tidak akan mengenal ibunya, sebuah kota besar seperti Bandung pasti akan sulit mencari sebuah nama yang banyak dimiliki, tanpa alamat jelas.

Tak terasa, menjelang magrib ia sudah tiba di Alun-alun Bandung, beberapa jenak ia istrirahat, bingung kemana lagi kaki harus melangkah. Setelah itu, dengan hati yang galau ia kembali menyusuri jalan mengikuti arah kaki tanpa tujuan.

Malam mulai merangkak, ia sampai juga di taman Tegal Lega, sebuah taman yang kini dihuni banyak Padagang Kaki Lima siang hari, tapi malam harinya, taman itu berubah menjadi firdaus kecil bagi lelaki hidung belang, karena di dalamnya terdapat banyak transaksi jual beli cinta sesaat, antara lelaki iseng dan perempuan penjaja cinta.

Diantara monumen Bandung Lautan Api yang ada dalam taman, lautan asmara tergelar penuh keakraban, remang-remang lampu diiringi musik dangdut dari kios-kios rokok, menjadi ilustrasi dan setting yang rutin tiap malam. Tawa kecil yang renyah dan menggoda, merupakan bagian dialog dari babak ke babak panggung percintaan mereka.

Lelaki itu sudah berada di taman, melongo, memandang kiri dan kanan, duduk termangu di sebuah sudut taman. Seorang wanita agak tua, dengan dandanan menor menghampirinya, bedak tebal yang menutupi pipinya, malah menutup bekas-bekas kecantikan di masa muda wanita itu.

Dengan senyum nakal, wanita itu mulai menggodanya, menawarkan kenikmatan, dengan harga nego. Mula-mula ia tak bergeming dengan rayuan itu, namun entah apa yang tengah merasuk dalam jiwanya yang tengah rapuh, Tiba-tiba ia dan wanita itu sudah berada di suatu tempat sepi, agak jauh dari keramaian banyak orang, tapi masih dalam taman itu, di sebuah tenda sebagai tempat untuk berbagi kesenangan, mereka menggayuh birahi.

Malam itu, lelaki desa yang lugu menyusuri pengalaman yang baru pertama kali ia lakukan, menikmati kebodohannya, melanggar sesuatu yang seharusnya ia jaga, sseperti ia menjaga kehormatan dirinya, kakek dan neneknya, serta Maryati, pacarnya. Malam yang pekat benar-benar telah menutup hatinya, wanita itu memang memberinya servis yang bagus untuk ukuran pelacur kelas jalanan.

Permainan usai, ia kelelahan dan tertidur beberapa saat, untuk kemudian terbangun, wanita tadi sudah tidak ada disitu, tiba-tiba ia teringat ibunya, dan tak mempercayai apa yang telah ia lakukan dengan pelacur itu. Ketika ia keluar dari tenda, sebuah kertas kumal tergeletak tepat di depan pintu keluar, tanpa berniat megambil ia memungutnya juga.

Sampai di luar, ia membuka kertas kumal yang ternyata berisi sebuah tulisan, penasaran, dibacanya surat itu;

“Lelaki malang, kamu pasti sedang mencari ibumu yang telah menyia-nyiakanmu sepanjang hidup, ibumu memang wanita biadab dan penuh dosa, setelah lama membiarkanmu di desa, kini ibumu pun telah membuatmu berdosa. Aku tahu, cincin itu pasti milik ayah dan ibumu, aku mengenal cincin itu, karena cincin itu miliku, maafkan aku nak!!, “.

Terasa disambar petir, tubuh lelaki itu bergetar hebat, jiwanya tergoncang, hatinya rapuh, matanya melotot dan tangannya mulai kejang, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya, ia lalu tersungkur dan terbujur kaku; Ia mati terkejut.

Pagi-pagi sekali, orang-orang ribut, geger!. Telah ditemukan dua mayat tak dikenal di sebuah taman di tempat yang berbeda, seorang lelaki berperawakan tegap dan seorang wanita agak tua dengan luka tusukan di dada dan perut. Orang-orang menduga, wanita itu tewas akibat bunuh diri, sementara lelaki tak dikenal itu, mati tidak jelas.

Bandung 2004

4 apenk…..dan kegelisahannya

>>Raymond Airlangga

EPISODE LAIN UNTUK EPISODE IV
(Tribute for Episode IV)

Aku mengenalnya. Itulah jawabanku ketika aku duduk tenang
mendengarkan cerita panjang lebar yang diceritakan oleh 
Joey. Pemuda putih dengan rambut sebahu, hampir mirip 
bintang-bintang sinetron yang memenuhi layar kaca, pemuda 
idaman dan sempurna bagi mata para wanita. Kulit putih, 
tubuh tegap dengan otot dan tinggi proporsional dan 
mungkin juga penis besar. Hei, ini zaman posmo bung!
        Aku menyimak ketika Joey bercerita bagaimana ia bercinta 
dengan Samantha, wanita yang dikaguminya, tentang 
bagaimana wajahnya yang cantik, campuran banyak etnik, 
tinggi semampai, bibir merah muda alami, hingga vaginanya 
yang ranum dan harum, mungkin karena obat di iklan. Aku 
menyerap kalimat-kalimat kotor yang diucapkannya. Tidak, 
aku tidak jijik karena akulah yang menanamkan itu pada 
satu buah bewarna keemasan di pojok surga.
        Namaku Lucifer, Tuhan membuatku dari api dan menciptakan 
Malaikat lain dari cahaya. Cahaya adalah wujud dari 
eksistensi api, lalu apakah Gabriel lebih rendah dariku? 
Tapi pedang agung Michael yang bersinar selalu membuatku 
mundur, menyilaukan. Sebelum Tuhan punya sebuah naskah 
drama tentang manusia hidupku tenang beserta mahluk-mahluk 
lain. Tuhan adalah sosok yang sangat adil dan bijak. Tuhan 
adalah Sang Yang Maha. Itu sebelum Beliau berkeinginan 
menciptakan manusia. Ketika Tuhan melontarkan 
keinginannya, aku menggelengkan kepala. Beliau 
mengada-ada, itu pikiranku. Bahkan Gabriel berkata, apakah 
Anda ingin menciptakan pertumpahan darah?1 Aku sependapat 
dengan Gabriel saat itu. Cerdas juga ia sebagai Malaikat. 
Tetapi Tuhan tetap dengan pendirianNya. Arogan, bisikku, 
aku yakin Beliau mendengarnya, tapi tak apa, pikirku. 
Setelah itu Manusia diciptakan dari unsur-unsur bumi dan 
langit. Ia diberi pengetahuan dan disahihkan sebagai 
mahluk paling mulia. Seluruh Malaikat termasuk aku diminta 
untuk sujud kepadanya. Mungkin saat itu timbul ego dalam 
diriku dan tak mau sujud padanya. Boss marah besar saat 
itu dan mengusirku. Beliau mengutukku tinggal di neraka 
akhir nanti, dan kuterima saja. Aku tak dapat menolak 
karena toh Ia yang menciptakanku. Sudah beruntung aku 
tidak dibunuh olehNya.
        Namaku Lucifer. Aku adalah Malaikat yang memberontak 
karena Boss kuanggap mengada-ada dan mungkin iseng 
menciptakan manusia. Pertama Adam, lalu Eva, kemudian Kain 
dan Habel. Dan semua berjalan sesuai dengan skenario yang 
Beliau buat, panjang, berhalaman-halaman kisah tentang 
manusia. Kami, para mahluk surga dan neraka tidak pernah 
mengetahui kapan kisah manusia ini akan selesai. Isrofil 
hanya duduk-duduk menikmati liburannya sedang temannya 
Izroil keliling mencabut kembali nyawa manusia. Seperti 
juga Malaikat lain, Tuhan dengan baik hati memberikan 
kelebihan kepadaku. Ya, aku diberikan kelebihan dan semua 
kutanamkan pada satu buah keemasan di pojok surga, dekat 
sungai susu. Aku memberikan semua gagasan yang aku punya. 
Gagasan tentang membunuh, bersetubuh, membuat khamar, judi 
kartu dan segala sesuatu yang mengumbar nafsu manusia.
        Aku membujuk Eva untuk memetik dan memakannya. Eva 
tergiur oleh keindahan khuldi dan merajuk kepada Adam 
untuk memetiknya (Kelak semua wanita akan kagum pada 
benda-benda yang menyilaukan matanya).
        “Jangan Eva, Tuhan melarang kita untuk memetik, apalagi 
memakan buah ini”. Adam marah-marah. Eva mendekatkan 
wajahnya kepada Adam, menciumnya panjang hingga lidahnya 
masuk ke rongga mulut Adam, lama.
        “Akan kutukar dengan cinta.” Dan cinta membunuh 
segalanya. Kata siapa Adam pintar? Ia takluk oleh wanita. 
Ia memilih godaan wanita daripada ketaatan kepada 
Tuhannya. Bukankah laki-laki yang harus menaklukan wanita. 
Joey setuju dengan pendapatku. Ia juga mendengarku dengan 
cukup baik. Aku beruntung dapat bercakap-cakap dengannya.
        Aku bertemu dengan Joey sewaktu Izroil selesai mencabut 
nyawanya dan hendak di bawa. Di kehidupan dunia ia adalah 
manusia yang menggunakan gagasan-gagasan milikku demi 
kesenangannya. Ia meminum khamar, berjudi, bersetubuh 
dengan wanita, yang mana saja, kecuali ibu dan neneknya. 
Bahkan ia bercinta dengan adiknya, namanya Jihan. Terakhir 
aku lihat ia bunuh diri. Peluru bersarang di tempurung 
kepalanya. Aku membujuk Izroil untuk memberikan kesempatan 
kepadaku sedikit bertanya pada Joey. Izroil memberiku 
kesempatan. Aku ingin memberi tahunya beberapa hal, bahwa 
Samantha masih mencintainya. Ia datang ke kubur Joey dan 
menciumi nisannya.
        “Biarlah, ia bukan Samantha, minimal tidak seperti 
Samantha yang kukenal2”. Itu alasannya.
        “Dengar, Tuhan menciptakan mahluk berpasangan. Itu 
sabdaNya. Mungkin Samantha adalah jodohmu. Kau seperti 
mengulang kisah lama. Seorang Bani Israil, ia bernama 
Onan. Pemuda itu masih perjaka dan mencintai seorang 
gadis. Tetapi keluarganya malah menjodohkan dengan seorang 
gadis lain, yang tidak dicintainya. Maka sebelum hari 
perkawinan, ia memberontak, ia melakukan masturbasi. Bisa 
saja Samantha jodohmu lalu kamu menolaknya dan bunuh diri.
        “Anda malaikat?” Tatapan Joey tampak berbeda.
        “Bukan. Aku Iblis.” Joey mundur beberapa langkah.
        “Bukankah Iblis adalah sosok merah dengan trisula di 
tangan? Bukankah Iblis adalah sosok yang menjijikan? Tapi 
wajah anda seperti manusia?”
        “Kamu terlalu banyak menonton Iblis nak. Atau para 
pendeta mengambarkanku agar kalian, para manusia takut 
kepadaku. Iblis hampir sama dengan Malaikat. Mereka 
awalnya adalah penghuni surga juga, mungkin kau pernah tau 
dari khotbah minggu.”
        “Maaf, saya jarang ke gereja selama hidup.”
        “Itu sebuah pilihan nak. Seperti juga engkau memilih 
antara surga dan neraka.”
        “Lalu mengapa anda mendatangi saya?” Aku hanya tersenyum, 
menimbulkan pertanyaan panjang dari Joey.
        “Aku hanya ingin tau, mahluk seperti apa yang digilai 
oleh Samantha, hingga ia datang, dan mencium nisanmu, hei 
anak muda.”
        “Lalu?”
        “Tidak, aku hanya teringat catatan panjangmu yang sering 
bersetubuh dengan wanita, termasuk adikmu. Lalu datang 
Samantha, gadis itu mencintaimu. Ia adalah satu-satunya 
wanita yang datang ke makammu dan menciumi nisanmu 
berulang-ulang.”
        “Gadis itu narsis. Ia mencintai daerah sensualnya lebih 
dari aku. Kadang ia memilih masturbasi setelah selesai 
bercinta denganku. Aku tak tahu. Aku sering bertanya pada 
Tuhan mengapa ia menciptakan banyak wanita untuk kunikmati 
tetapi mengapa Samantha yang jatuh cinta kepadaku.” Aku 
tertegun, lama.
        “Kau pernah bertanya pada Tuhan anak muda?” Joey 
mengangguk.
        “Yang kudengar dari sekolah minggu, atau teman-teman yang 
pulang dari sembahyang Jum’at, Tuhan berbuat dengan 
caraNya. Cara-cara yang terkadang ada di luar nalar kita. 
Keajaiban. Itu mengapa aku tak pernah bertanya pada 
Tuhan.”
        “Tuhan dapat melakukan apa saja. Beliaulah yang 
menciptakan aku, malaikat, bahkan kalian, para manusia 
rendah yang hanya terbentuk dari daging, darah dan sperma. 
Lalu Tuhan mengirimkan ruh, sekali lagi dengan CaraNya. 
Aku punya sebuah cerita anak muda. Sekitar seratus tahun 
lalu, ada seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang 
gadis. Ia memuja gadis itu laksana putri. Tiap malam ia 
berdoa agar Tuhan membuka hati gadis itu untuknya. Karena 
ia begitu mencintai gadis itu, dari dalam hati yang paling 
dalam. Ia bersinar ketika bersama si gadis dan redup 
tanpanya. Mungkin kau pernah mendengar apa yang terjadi 
pada mereka.” Joey menggeleng.
        “Aku tidak tahu.”
        “Pemuda itu bernama Angga, dan gadis yang dicintainya 
adalah Maya. Pemuda itu akhirnya tidak mendapatkan cinta 
si gadis karena Maya menikah dengan orang lain, yang 
dicintainya. Pemuda itu memutuskan untuk melajang seumur 
hidupnya, sampai ketika Izroil mencabut nyawanya. Ia tidak 
dapat lagi jatuh cinta. Doanya hanya satu, dan itu untuk 
kekasihnya, Maya. Semoga ia berbahagia dengan pilihan 
hidupnya.”
        “Lalu Maya?”
        “Maya? Maya bahagia karena menikah dengan pemuda yang 
telah membuatnya jatuh cinta. Ketika cinta jatuh di 
kepalanya, ia berdoa pada Tuhan semoga pilihannya tepat. 
Tetapi pernikahan adalah jawaban salah yang diambilnya. Ia 
selalu disiksa suaminya, dengan fantasi-fantasi seks liar. 
Maya tersiksa, stress, kemudian depresi, dan hampir gila. 
Berulang kali ia melakukan usaha bunuh diri. Memotong 
nadinya, meminum racun serangga, bahkan menggantung 
lehernya. Tapi Tuhan menghendakinya tetap hidup. Izroil 
menanti usianya uzur sebelum mencabut nyawanya.”
        “Dan seterusnya?”
        “Kau sudah tau anak muda. Tuhan berkehendak dengan 
caraNya. Cerita-cerita seperti Onan, seperti Angga, dan 
mungkin engkau dan Samantha hanya akan menjadi catatan 
sejarah dunia yang tidak akan diingat siapaun, kecuali 
aku. Tapi cerita tetap berlanjut, skenario dari Tuhan 
tetap akan berjalan. Kalian hanyalah debu-debu 
dihadapanNya. Sementara Ia tetap Yang Maha.” Keduanya 
terdiam lama. Mungkin sudah bertahun-tahun waktu bumi.
        “Lucifer, mengapa anda memberontak? Bukankah jika engkau 
tidak memberontak manusia masih berada di surga? Jika 
manusia berada di surga maka segala keinginan mereka akan 
terpenuhi dan mereka akan berbahagia.”
        “Mungkin. Pernahkah terpikir jika aku tidak memberontak 
akan seperti apa? Tapi inilah takdir. Akupun tidak tahu 
mengapa aku tiba-tiba memberontak. Mungkin egoku 
tersentuh, menganggap aku lebih mulia dari Adam. Tapi 
mungkin juga ini skenario dari Tuhan. Apakah engkau yakin 
jika Adam dan Eva tidak memetik buah yang keemasan itu 
lalu memakannya, mereka akan tetap berada di surga? 
Sedangkan Gabriel pernah berkata ketika Tuhan masih 
menyimpan Adam dalam ideNya, apakah Tuhan akan menciptakan 
pertumpahan darah di bumi? Jika demikian bukankah mereka 
akan turun ke bumi suatu saat nanti?”
        Joey, terdiam. Entah berapa tahun di bumi dan Samantha 
sudah tua. Lucifer tau itu dan mengajak Joey untuk 
melihat-lihat bumi. Perempuan paruh baya duduk di kursi 
goyang. Menekuni sulaman pakaian kain berbahan wol. 
Sepertinya menyusun sebuah kata. Raut wajahnya berbeda 
ketika terakhir kali Joey melihatnya merengek karena 
dahaga oleh kepuasan yang biasa didapatnya. Joey 
mengacuhkannya. Joey pergi, dan peluru bersarang di 
otaknya
        “Siapa dia dan mengapa kau ajak aku ke sini.” Lucifer 
tersenyum. Jubah hitamnya melambai walau tak berwujud di 
dunia nyata.
        Dialah Samantha. Samantha yang sama yang bercinta 
denganmu, juga Samantha yang sama dengan yang merengek 
mengharapkanmu, dan Samantha yang mencintaimu.”
        “Lucifer, adakah ada bidadari di neraka?” aku tersenyum.
        “Harus ada sebuah keseimbangan dalam kehidupan. Kehidupan 
dunia dan alam yang lain. Jika kita kesulitan di dunia dan 
selalu mengingat Tuhan. Maka Tuhan akan menyiapkan tempat 
di Surga. Sebaliknya jika kita terlalu bahagia di dunia, 
maka banyak waktu yang akan dilewatkan di neraka. Dan di 
neraka tidak ada bidadari. Mahluk cantik itu enggan masuk 
ruangan bau, pengap, panas dan mengerikan itu.”
        “Lalu neraka?”
        “Jangan bertanya tentang neraka kepadaku nak. Nanti kita 
bertemu lagi, dan merasakan tinggal di sana. Jika Tuhan 
berbaik hati, ia akan menempatkanmu nanti, pada waktunya.”
        Aku pergi, meninggalkannya, satu malaikat kemudian 
membawanya entah kemana. Dan Samantha.... Samantha 
akhirnya mati pada usia tujuh puluh lima. Setengah abad 
setelah Joey mengakhiri hidup dengan sebutir peluru di 
otaknya.

>> Ervin Ruhlelana

Sebuah Dialog Sinis Antara Entah-Siapa dengan Seratus Egoku

(Diambil dari blog Niskala (www.samanthadream.blogspot.com), tertanggal 9 Maret 2000, sekarang blog ini sudah di non-aktifkan)

1. apa yang lo makan sekarang?

sebenarnya dipaksa untuk memakannya, Analisis Wacana Kritis dengan teori Louis Althusser... tentang para aparathuse sialan

2. apa yang lo minum sekarang?

tangisan seorang bayi yang kutemui terlantar di bawah pohon beringin di negara sialan ini (Republik Idiotnesia)

3. apa yang lo liat sekarang?

otak-otak berisi busa dan kecambah serta kondom berkepala Lucifer

4. apa yang lo rasain sekarang?

sekarat dan nyaris orgasme, dua hal yang selalu kurindukan, cukup segar dengan tambahan dua bungkus wanita tanpa identitas

5. apa yang jadi beban lo sekarang?

beban orang-orang (i have an acute empathic syndrome)

6. apa yang lo denger sekarang?

dialog asap dengan sehelai daun mati tentang bagaimana membuat steak sapi yang baik untuk kulit, f them!

7. apa yang jadi dosa lo sekarang?

i don't believe in sin, i believe in God without her/his rule about sin. manusia adalah mesin gairah, sejak awal. tuhanlah yang menciptakan itu.

8. apa yang jadi kebiasaan buruk lo sekarang?

berusaha menjadi baik, damned! gw enek dengan segala nasihat yang loe kasih, ke gurun pasir aja loe, dipatuk ular berbisa...

9. Apa yang lo rasa ga enak sekarang?

rasa kopi di kafe tadi yang mirip kencing kuda

10. apa yang baru dari inbox hp lo sekarang?

ribuan pernyataan cinta dari semua nomor berjenis kelamin wanita, sengak!

11. apa yang lo mau banget sekarang?

mati saat orgasme di rahim Agnes Monica dan menyusun diri dalam schizophrenia

12. apa yang lo kangenin sekarang?

konser Rasul Muhammad di atas Ka'bah

13. apa yang membuat lo marah sekarang?

kehilangan sejuta duka yang udah gue susun sejak bayi

14. apa yang ga bisa lo hentikan sekarang?

masturbasi di atas tubuh Dia

15. apa yang ingin lo temukan sekarang?

Agama Baru yang relevan dan representative

16. apa yang lo bawa di tas sekarang?

setengah sisa hidup gue yang nyaris dicuri mimpi- mimpi buruk

17. apa yang lo pake sekarang?

sejuta kelalaian yang seharusnya gue buang jauh- jauh semenjak konser diatas asap dupa 800 ribu tahun yang lalu

18. apa yang jadi harapan lo sekarang?

menanam biji Tuhan di kepalaku, susah banget nyari bijinya...

19. apa yang pengen banget lo beli sekarang?

The Flybook dan Mariyuana

20. apa yang pengen lo cuekin dari bisikan setan sekarang?

setan gak pernah bisik-bisik ama gw, mereka berteriak: "Jangan Tinggalin Agama Loe!"

21. apa yang pengen lo bilang dari doa lo sekarang?

“Tuhan, gw butuh mesin cetak...!”

22. apa yang ingin lo hilangkan sekarang?

perasaan bersalah atas kematian Guttenberg dan Barthez

23. apa yang pengen lo tulis dalam satu kata sekarang?

FAITH

24. apa yang lo cintai sekarang?

sebuah harum yang khas dari sebuah lubang kecil bertindik yang pernah membunuh indera penciumanku, damn it, it's so tight at the first!

25. apa yang bikin lo semangat sekarang?

saat diskusi tentang Agama Baru yang akan segera kubuat

26. apa yang pengen lo bilang, ke orang yang lagi deket sama lo sekarang?

aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu, tapi aku suka puluhan gurat singkayo yang tercetak di garis karet celana dalammu...

27. apa yang pengen lo bilang sekarang?

“God Damned, forget it!”

28. apa yang lo percaya sekarang?

CINTA YANG LOGIS

29. apa yang pengen lo ganti sekarang?

Penis, diganti sebuah dildo yang bisa orgasme berjam-jam dan bisa mikir sendiri...

30. apa yang pengen lo tanya sekarang?

kenapa loe berpikir gw orang yang aneh dan gila? padahal kegilaan adalah sebuah kenikmatan.

>> Aida Vyasa

Sekala & Niskala II.

(An Allegory)

Pagi ini, masih dalam suasana hari ulang tahunku yang ke-27, dan aku mengatakan pada Niskala, kalau mengalami euforia yang menggila semalam. Kau tahu dengan apa? Yah! Semalam aku melakukannya.

Perjumpaan pertama kali dengan Niskala.

=== *** ===

Di perjumpaan yang kali pertama ini, aku katakan pada Niskala, kelak, hidupku harus menganggur dan berlibur. Niskala lalu bertanya apa maksudnya. Dan kumenjawab, aku ingin menjadi penulis, yang kerjanya cuma memeras keringat dan otak untuk memberdayakan diri sendiri dan kemudian, jika kuberbaik hati, aku akan memberdayakan orang lain. Itu yang kusebut menganggur. Dan menulis itu sendiri berlibur. Kerjaku hanya menulis dan menulis. Yah, bolehlah sesekali terjun ke masyarakat dan bergaul dengan pekerja sosial yang lainnya, tapi aku akan menjadi penulis. Dan menulis itu seperti liburan.

Niskala tersenyum. Ia manis sekali. Wajahnya seperti Orange Juice – yang membuatku bangun awal di pagi hari. Ia mengatakan, “Aku akan menulis lagu pagi ini. Kamu mau menemaniku?”

Aku tak menjawab ajakannya itu.

Toh kita baru bertemu.

Orang sering menganggap bahwa apa yang kulakukan itu adalah sesuatu yang sangat biasa, bahkan kurang bernilai dan menyiratkan remeh temeh. Banality! Padahal, aku melakukan hal itu dengan sepenuh hati. Aku membuat kesimpulan yang banyak allegory. Seperti ada sesuatu di balik Don Quixote, atau mungkin something fishy dengan lagu “Danau Toba”-nya Julius Sitanggang. Dan apa yang kulakukan saat ini membuat banyak orang di kampungku ketakutan. Seolah aku kuliah di sebuah Universitas dengan mengambil jurusan Horrosophy. Padahal aku sama sekali awam dengan ilmu yang cakap perihal penciptaan konsep yang menakut-nakuti masyarakat. Mungkin Brown dengan Da Vinci Code-nya berhasil lulus dalam mata kuliah ini. Terbukti beberapa sekawanan orang ketakutan dan ingin cabut novel ini dari peredaran.

Aku terus nerocos jika bertemu dengan Niskala – secara diam-diam. Ia duduk manis; memasang senyum surga dan mataku ditatapnya. Begitu dalam. Tiba-tiba, seolah aku berada dalam sebuah kelas yang mengajarkan Libidosophy; bahwa aku diajarkan bagaimana cara mengolah energi seksual, emosi dan psikisku agar bisa bergaul baik dengan diriku dan masyarakat. Agar kuat menghadapi tatapan tajam mata Niskala.

Niskala, malam itu bertanya, mengapa aku mau bertemu dengannya. Kukatakan bahwa aku ingin bertemu dengan Niskala dan itu adalah karnal. Kemudian libidinal-nya adalah kerinduan. Kemudian Niskala bertanya tentang apa yang aku rasakan ketika aku bertemu dengannya dan ketika matanya bertemu dengan mataku secara langsung dalam sebuah tatapan yang sangat lama.

Sappho .... sappho .... 26 abad silam; seolah merasuk ke dalam diriku.

When I see you, my voice fails

My tongue is paralyzed

A fiery fever runs through my whole body

.....

Itu jawabanku.

Niskala mengajariku untuk mengenal emosi yang tidak sekedar sensasi. Seperti naluri, emosi itu memotivasi. Seperti yang barusan ia lakukan dengan membuatku untuk menemuinya. Emosi itu jika kulakukan maka aku akan mendapatkan imbalan – yang lambat laun kukenal sebagai pahala atau ganjaran mental dalam bentuk rasa puas. Dari emosi ini akan muncul cinta buta, gelijang ekstasi karena Tuhan dan ketekatan menjadi martyr. Ini keinginan untuk mendapatkan surga. Memacu emosi untuk tetap positif; karena jika kupacu emosi ke arah negatif, maka aku akan menciptakan nerakaku sendiri.

“Tentang neraka, Sekala. Apa pendapatmu?”, tanyanya saat itu.

“Tidak ada yang salah dengan orang yang mempercayainya sebagai hal yang sudah diciptakan atau belum. Itu masalah penafsiran. Hanya saja, mungkin aku akan ketengahkan tafsirku bahwa mengapa haruskah manusia diberi gambaran yang terlalu dogmatis bahwa surga itu memiliki kolam susu dan madu yang menurutku itu bukan surga. Aku bergidik membayangkannya. Aku lebih suka kolam air mineral segar yang bening, seperti yang ada di pegunungan.”, jawabku.

“Ya. Memang itu melihat tempatnya sih”, tukas Niskala sembari memapankan tubuhnya mendekatiku.

“Jika turun di Swiss, mungkin akan menjadi kolam cokelat. Tapi peradaban apa yang akan diubah disana, sehingga gambaran tentang jahiliyyah akan tertera dengan begitu jelasnya?”, tambahnya.

Apakah peradaban menunjukkan realita yang ada disaat itu, gumamku lirih.

“What is real?”, tanyanya tiba-tiba.

“Morpheus?”, aku terheran.

Aku tahu Niskala suka dengan film Matrix. Siapa sih yang tidak? Karena film itu realita. Uppss.. mamaku sering mengatakan, “Jangan nangis kalau lihat film. Itu tidak sungguhan.” Salah juga! Film bisa jadi lebih nyata daripada realita. Tapi ini bukan sesuatu yang mutlak. Jika saat aku meminum kopi, maka realita yang ada adalah aku gembira. Sensasi biji kopi halus yang disedu air panas itu seakan masuk ke dalam pembuluh darah dan naik ke otak, menyegarkan bagai oksigen. Tidak realitanya adalah, jika ada pendapat bahwa yang kurasakan itu adalah sugesti.

“Bukan. Aku adalah waktu”, jawabnya.

“Oh. Cermin Tuhan?”, jawabku.

“Ada suatu adegan dimana Morpheus mengatakan bahwa kita ditekan oleh waktu”, katanya lebih lanjut.

“Ya, aku juga perhatikan itu dimana si sutradara Matrix itu tidak hanya mengagumi Baudrillard, tapi juga Camus dengan memakai teori absurditasnya. Bahwa kita jalani hidup tanpa seri dan terlena oleh waktu. Ditekan olehnya. Seperti, ‘Ini demi masa depanmu, Nak’. Oh! Masa depan? Masa depan itu adalah kematian itu sendiri!”, aku terengah-engah mengatakannya. Amarahku merah sudah. Sesuatu dari dalam tubuh mendorongku untuk mengatakan hal itu begitu saja. Padahal aku tak ada masalah dengan kematian dan keinginan ingin mati. Hmmm ... not really.

“Kamu tahu kenapa aku ingin mati pada umur 25? Kamu pernah membaca diriku di Episode IV, bukan?”, tanya Niskala sembari tetap mengumbar pandangan ke arahku.

“Ya. Kamu lebih memilih mati di umur 25 dibanding umur 27. Tapi sudah terlewatkan, bukan? Lebih baik, gabung saja di umur 27. Klub 27 memang sudah diuji terlebih dahulu eksistensinya dibandingkan teori baru, mati di umur 25”, jawabku. “Dan untungnya aku tak melihat alasan seperti seorang penulis di pasca Perang Dunia II yang setelah menyelesaikan bukunya, ia bunuh diri untuk menarik perhatian masyarakat. Dia peniru Pegrinos. ”

“Hey, aku juga sempat berpikiran seperti itu. Menulis lalu bunuh diri. Tapi alasan aku mati itu karena ...”

“Kamu rindu bercumbu dengan Tuhan yang selama ini cuma bisa dibayangkan. Aku suka alasan itu”, aku sengaja menyela perkataan Niskala. Karena aku tahu kemana arah pembicaraan. Dia memang menghafal Episode IV miliknya. Karena apa yang ia tulis, itu benar-benar dirinya. Inilah indahnya Episode IV: Sebuah Manuskrip. Novel yang belum terbit tapi sudah menjadi buku wajib beberapa teman dekatnya. Aku menganggap itu sebagai langkah awal mengenal sosok lain seorang Niskala dan penciptanya.

“Maka itu kau ingin berlibur, sekala? Berlibur dan menulis?”

“Ya, kau tahu, karya besar bisa jadi dari hal yang banalitas. Mungkin saat aku berbicara dengan diri sendiri yang kebanyakan orang akan menganggap kita gila, atau mungkin juga di saat aku berlibur dan menikmati makan malam dengan banyak teman. Mungkin dalam kesunyian, mungkin juga keramaian. Mungkin saat aku bertemu seseorang atau saat aku menunggu sesuatu”, jawabku.

“Sekala, kamu sedang jemu akan sesuatu?”, tanyanya.

“Maksudmu dengan rutinitas?”, jawabku. “Jemu itu khan tanda dari kerusakan mesin aktivitas. Seperti seorang yang sedang naik ke puncak jalan bertanjak, setelah di atas, dia berada di titik jemu. Dan dia sadar bahwa dia harus turun. Jangan-jangan, kau mengira bahwa aku akan bunuh diri juga. Sempat terlintas. Tapi aku takut dengan kepedihan fisik yang disengaja. Aku takut dengan bunuh diri. Aku mencintai perjuangan di ujung kematian.”

“Syukurlah”, jawabnya singkat.

“Kenapa?”, kubertanya.

“Aku baru berjumpa denganmu, mensyukuri pertemuan kita dan juga tidak menyesal karena melewati Klub 27 tanpa mampir dulu. Ladangku adalah waktu[1]. Akhirnya.”

“Hah! Ngapain panggil-panggil Goethe seperti itu? Ingin jadi absurdian?”, celetukku.

“Bisa jadi, Sekala. I miss you. Semakin kita mencintai maka dia yang kita cintai semakin absurd. Sama halnya mencintai dunia yang sudah absurd seperti ini”, jawabnya kali ini memelas tapi tak meminta sesuatu dariku. Tidak juga balasan tatapan mata.

Bersama dirinya, aku tak tahu realitaku. Apakah saat ini aku merasakan hidupku yang sama dengan sebelumnya, atau hidupku yang baru, ataukah hidupku yang lain. Apakah saat ini aku memiliki banyak citra diri dan terserah pada diriku mana yang akan kukenakan. Saat bertemu Niskala, maka aku memakai citra diri yang sekarang ini. Lantas sepulang dari pelukan Niskala, citra diri apa yang kukenakan itu? Sungguh aku tak melihat ada yang aneh. Tapi mengapa mereka selalu mengucapkan hal yang sama? “Kembali ke Bumi, Sekala!”

“Niskala, aku pernah bertanya sebuah pertanyaan paling aneh yang pernah kutanyakan pada seseorang. Apakah, di hidupku sekarang ini, aku adalah orang yang menyenangkan?”, kataku.

Niskala diam dan tersenyum. Indah sekali.

“Aku tanyakan hal itu kepada Lotus dan ia berbisik pula kepadaku. ‘Ya, kau sangat menyenangkan, Sekala. Sangat menyenangkan.’ Dan saat itu, jika malaikat mencabut nyawaku, maka aku adalah orang yang paling bahagia yang meninggalkan tanda tanya. Jawaban Lotus itu adalah pencegah diriku untuk menghabisi diriku sendiri”, tambahku.

Niskala masih terdiam. Menatapku lebih dalam dan menghela nafas seolah menikmati kata-kataku. Tersenyum, kemudian, “Kamu memang takkan pernah melakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri. Aku tahu, kamu adalah tipe orang yang akan membuat diri digerogoti habis. Dan kau tahu, siapa yang akan menyelamatkanmu?”, tanyanya.

“Siapa?”

“Aku”, jawabnya, “Meski aku mungkin takkan selalu disampingmu nanti, aku yakin kalau akulah yang akan membuatmu ingat untuk tidak menghabisi dirimu sendiri. Aku yang akan membuatmu bertahan hidup.”

“Maksudmu, sama dengan hal yang menahanmu untuk bunuh diri? Bahwa telah kamu temukan Don Quixote dalam Carventes, Zarathusthra dalam Nietzsche, Frankenstein dalam Mary Shelley dan Sekala dalam Niskala?”

“Mungkin ... itu bisa jadi, khan? Jangan lupa, Ibn Hakkan Al-Bokhari dalam Borges!”, jawabnya.

“Atau David Copperfield dalam Charles Dickens?”, tambahku.

Dia tertawa ....

“Baiklah. Aku harus pulang dulu”, aku menyudahi pertemuan.

“Tunggu! I still miss you. Kamu akan datang lagi, bukan?”, dan ketika ia mempertanyakan itu, wajahnya yang charming dan manja membuatku nampak seperti Ibu Pertiwi; sahaja dan ngemong.

“Ya. Aku akan datang lagi besok. Kamu jangan manja seperti itu. Aku bisa tergoda seperti wanita-wanita Don Juan”, jawabku.

“Kamu khan yang mengatakan bahwa aku seperti Lord Byron. Padahal ...”, ia belum selesai meneruskan kata-katanya; dan aku menjabat tangan hangatnya, “Kita bertemu lagi besok. Di tempat yang sama.”

Kemudian kita berpisah sementara. Aku kembali ke kamarku. Dan ia pun kembali ke tempat dimana ia biasa menyendiri.

* * *

Aku mengingat-ingat apa saja yang kubicarakan dengan Niskala, selain Klub 27 yang mengingatkan seharusnya aku bunuh diri malam ini, aku juga sempat mengatainya sebagai Don Juan. Tapi aku bukan pengikut setia Kurt Cobain. Aku adalah pengagum Chairil Anwar, yang matinya di jemput malaikat dan dicabut nyawa, roh bertemu Yang Maha Kuasa di usia muda. 26 tahun 9 bulan. Sungguh angka yang indah. 269. Dua 69. Dua Yin and Yang. Jika dibalik, maka bentuknya seperti lambang Cancer. Cocok! Chairil Anwar memang seorang Cancer. Setidaknya ia sudah merongrong diriku dan membuatku mati jatuh hati padanya.

Aku dan Niskala juga berdiskusi tentang Absurditas. Sebenarnya aku ingin berdebat lama dengannya. Masih bisa panjang percakapan kami, akan tetapi waktu menekan. Yah. Menekan. Sekarang, aku sendirian dalam kamarku ini. Sering kali ia mengatakan bahwa ia merindukanku. Aku tahu. Itu sekedar rangsangan yang seharusnya kurespon pula dan berakhir sudah. Tapi, aku tak menjawabnya. Aku membiarkannya terpendam. I miss him also.

* * *

Jika biasanya rindu sembuh dengan bertemu, aku sembuh dengan Benetton ‘Cold’. Ini yang mampu menghadirkan Niskala setiap saat kumau. Realitas ada bersamaan dengan spray dingin Benetton ‘Cold’ ke tubuhku. Niskala hadir saat itu dan aku bisa berkata kepadanya, “Reality is really indeed nostalgia”.

JAM HATI (Menjadi Niskala)[2]

-Untuk ruh yang melelana-

Jam hati berdetak

Tidak seiring waktu

Hari ini menciut

Kemarin juga

Aku takut menjadi nista

Aku ingin menjadi niskala

Apakah jam jatiku

(akan)

membawaku ketakmewaktuan?

Dan aku menjadi niskala?

Aku sudah memperlambat jam hatiku

Tidak mengungkap apa yang berdetak

Tidak kuperdengarkan

Masih sama menciut dengan kemarin

“SUDAHLAH!”

sudahlah?

“YA, SUDAHLAH!”

kenapa?

“KAU HARUS MENGENALNYA!”

begitu?

Aku akan menjadi nista

Jam hati tak kenal kala

Tak peduli detik

Tak sadarkan masa

Jika menciut (kadang) lupa melebar

Tapi ia hati

Ia akan melebar

Penerimaan

Cinta

Dan niscaya,

Saat itu aku akan jadi niskala.

Ikut dengannya berkelana

(dalam)

ruh yang melelana.

Aida Vyasa

Valhalland, 5 April 2005



[1] Goethe once ever said this.

[2] Puisi yang ditulis Sekala pada tanggal 5 November 2004

>> Miranty Desy

Aku, Po, dan Ex-Niskala

Rasanya telah berabad – abad saya kehilangannya. Hidup dalam ketidak-lengkapan yang amat membingungkan. Kehilangannya – kehilangan Po – kehilangan mimpi-harapan-realitas-dunia-myself-tottaly lost in space.

Dan kemudian, setelah begitu lama dan tiada akhir, saya bertemu dengannya. Seorang lelaki yang datang entah dari manakah dunianya. Biasa-tidak biasa. Biasa-karena saya begitu sering melihatnya-bertemu-berpapasan, dan selalu jadi tak biasa-karena kami, tidak pernah benar-benar saling mengenal, saling menyapa-berbicara-berbasabasi.

Niskala. Begitulah saya mendengar namanya lima ratus dua puluh lima hari sebelumnya – saat pertama kali saya bertemu dengannya pada konser SID – Samantha Imposible Dream – yang maaf, tidak pernah bisa saya nikmati.

Dan untuk sesaat, saya merasa telah kehilangannya juga – sejak pertemuan terakhir kami – tiga puluh lima jam yang lalu.

Lima ratus dua puluh lima hari sebelumnya...

Agustus 1999

Namaku Niskala.

Namaku Fana.

Begitulah mereka memperkenalkan diri. Berjabatan tangan-menjadi pembaptisan bagi dua manusia kosong paling nyata pada semesta yang diciptakan Sang Deus Oteous sebelum menjadi Tuhan.

Namaku Niskala-Rockstar yang memuja kematian, nama tengahku adalah senggama.

Namaku Fana-bukan siapa-siapa.

Begitulah mereka memperkenalkan diri. Berpisah lima detik kemudian – diantara ribuan manusia pemuja Niskala Sang Rockstar. Begitulah mereka terpisah, tanpa sadar meninggalkan jejak ruh yang mengembara diantara ruang dan waktu. Hanya itu. Tidak ada seorangpun dari mereka berdua yang tahu, dikemudian hari mereka akan bertemu lagi-pada sebuah ke-chaos-an manusia, dalam ego yang paling abadi di muka bumi-cinta dan kebencian.

Tiga puluh lima jam sebelumnya...

Januari 2001...

“ Namaku ex-Niskala.”

“ Fana. Hanya Fana.”

Niskala tertawa pelan, sedikit serak, sambil menghisap rokoknya,” Untuk seorang Fana, kau terlalu nyata.”

Saya tersenyum. “ Untuk seorang ex-Niskala, kamu jadi terlalu manusiawi.”

Ex-Niskala yang sekarang ada di hadapan saya adalah Niskala yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari Niskala yang pernah berkenalan dengan saya-dulu. Entah apa yang membuatnya berbeda. Saya toh, memang tidak pernah benar-benar mengenalnya-menyukainya-apalagi memujanya. Saya kira dia sudah mati – seperti yang selalu diinginkannya – berita kematiannya sangat menggemparkan dunia, membuat semua manusia pemujanya berduka-ikut mati bersamanya.

Sekarang dia tiba-tiba saja muncul, seperti hantu. Atau mungin dia memang hantu yang menamakan dirinya ex-Niskala. Ah, siapa perduli ? Lelaki itu duduk di pojok bar sepi dan temaram, memperhatikan ke luar kaca yang memisahkannya dengan dunia luar. Dan saya-tibatiba begitu saja, menghampiri-duduk dihadapannya-terhipnotis oleh-entah apakah itu. Menawarinya sebotol bir yang diterima dengan sebuah seringai dingin.

“ Kenapa kamu menatap saya seperti itu ?“ Saya bertanya setelah ia menyalakan sebatang rokok. Ia selalu menatap saya, membuat gugup menjadi sebuah gigil yang melemaskan lutut.

“ Karena aku menyukainya.”

“ Brengsek, “ Saya tertawa.

Benak mereka berputar-putar di sepanjang jalan bebas hambatan berwarna kuning-kadangkadang jadi pink-sebentar kemudian jadi biru. Matahari tidak lagi menampakkan seringai kuning keemasannya-warnanya jadi apapun yang mereka inginkan. Mereka memasuki dunia paralel saat dua otak mereka ber-merger jadi sebuah gumpalan putih berdenyut tanpa identitas.

Saya, hanya menghirup tawa yang melayang-layang bersama asap nikotin di udara. Pengap.

“ Apa bedanya Niskala dan ex-Niskala ? Kalian ternyata tetap orang yang sama.”

“ Niskala adalah Rockstar, aku, ex-Niskala, bukan siapa-siapa.”

“ Oh...ok, i think that is-whatever-absoluttely perfect for you.”

“ Jadi, siapa Fana ? Lima ratus dua puluh lima hari sebelumnya kau bilang bukan siapa-siapa.”

Saya mengerutkan kening.” Tidak mungkin kamu ingat saya.”

“ Aku punya ingatan...yang cukup well, baik..”

“ Oh..” hanya itu. Terkejut sebentar-selebihnya biasa saja. “ Entahlah, saya tidak tahu. Sekarang semuanya sama saja-siapa-apa-siapa-saya tidak perduli.”

Langit jadi ungu sekarang, dan pepohonan yang bersiul memanggil angin biru, berubah jadi keperakan. Butiran hujan yang membeku jadi butiran kristal merah-menggantung di udara dan tanah magenta mengalir jadi sungai hijau menuju lautan abu-abu.

“ Saya tidak tahu. Jadi kamu adalah....”

“ Entahlah. Bahkan setelah Niskala Sang Rockstar telah menentukan kematiannya sendiri, aku hanya seseorang yang mau mengakui kalau dirinya hidup dalam kegelapan. Aku memang selalu hidup dalam sisi yang gelap yang di definisikan sebagai wilayah hitam oleh orang-orang-para teoritis yang sok berteori. Jangan membicarakan aku. Bagaimana denganmu ? c’mon, kau pasti tahu siapa dirimu sekarang ?”

Jadi apa yang sedang dibicarakan ? Saya...jujur saja benar-benar kebingungan. Bagaimana saya bisa mengerti apa yang sedang dibicarakannya-ingin-dibicarakannya saat ini, jika saya pun kebingungan kenapa saya menghampirinya-ada disini-kebingungan lengkap yang mengikatkan tubuhnya pada saya erat-erat.

Saya mengaduk-aduk isi cangkir kopi pelan-pelan. “ Pernah, suatu ketika saya hidup dalam bayangan mimpi mortal tak berdimensi. Sebuah dunia semu yang saya bangun dari tetes-tetes keringat sejuta malam-merasa sangat nyaman di dalamnya. Dimana kematian dan kehidupan adalah dua hal yang sangat berbeda, namun sama-sama saya cintai. Itulah saya lima ratus dua puluh lima hari yang lalu-yang pernah kamu kenal. Tapi itu sebelum saya bertemu dengannya. “

“ Dengannya ? Lelaki ?”

Saya mengangguk.” Kemudian saya hidup dalam sebuah dunia transendental dimana imajiner menjadi realitas yang sangat nyata. Dialog yang terjalin diantara kami adalah manifestasi dari ketiadaan yang hidup dalam sebuah mimpi tak berujung. Terseok-seok, saya mencari jalan keluar dari dunianya untuk kembali membangun ruang hampa dari tempat barang bekas. Membangun sebuah keabadian baru dalam gelombang insomnia dan skizophrenik. Dimana kehidupan dan kematian tidak lagi membangun dinding pemisah diantaranya-mereka menjadi setara-sama. Realitas dan mimpi telah menyatu dalam cawan ke-chaos-an paling dasyat. Mereka-saya, menyatu dalam sebuah keabadian-imortalitas paling menganggumkan dalam henyak ketiadaan. Jadi siapa saya sekarang ?”

Kini semuanya serba terbalik-miring ke kanan-miring ke kiri. Pijakan jadi gelombang yang membuat darah naik turun. Mereka berjalan santai di dunia terbalik mereka. Kepala dibawah-kaki di atas atau sebenarnya sama saja hanya masalah persepsi yang melihat ?

Niskala terbahak. “ Haha..untuk seorang Fana kau terlalu membingungkan.”

Sekarang kebingungan itu menjadi luar biasa absurd. Banyak manusia absurd lain yang pernah saya jumpai, tapi lelaki yang kini duduk dihadapanku-sambil meneguk birnya dengan wajah seorang penjelajah padang pasir- punya ke-absurd-an yang sedikit berbeda. Jadi apa absurd itu sekarang ? Mungkin teori absurd itu memang sudah seharusnya di re-definisikan kembali.

Saya tertawa sendiri sampai Niskala mengerutkan keningnya juga. Dia pasti kebingungan saat ini. Sudahlah, saya biarkan dia untuk berfikir, atau berargumentasi dengan dirinya sendiri.

Otak mereka bersatu, jadi gumpalan putih-lembek-berdenyut-bermerger jadi tanpa identitas. Mereka tertawa, berlarian gembira disepanjang jalan bebas hambatan yang berwarna pelangi me-ji-ku-hi-bi-ni-u…sebuah alam terbalik dimana langit jadi bumi dan bumi menjadi langit. Hitam jadi putih, putih jadi hitam, positif jadi negatif-negatif jadi positif, Kotak jadi bulat-segitiga jadi kotak. Atau ini hanya masalah persepsi bagi yang melihatnya ?

Entahlah. Tapi mereka, sangat menikmatinya. Mereka tertawa-tawa…berlarian…tertawa-tawa…riang gembira….

Tiga puluh lima jam setelahnya...

Januari 2001

Ia memutar keran, mengisi air, meminumnya bersama dua butir valium. Melepas pakaiannya saat berjalan menuju ruang tengah-di rumahnya yang sepi-gelap gulita. Satu-satu-satu-sampai telanjang. Ia menghempaskan tubuhnya ke lantai, meraih remote tv, menyalakannya.

Channel 3-sinetron. channel 4-musik dangdut-channel 5-MTV-channel 6-sinetron islami-channel 7-discoverry chanel-channel 8-sepak bola-channel 9-film kungfu-channel 10-film laga basi.

Kembali ke channel 5-MTV.

***

Pernah, suatu ketika saya hidup dalam bayangan mimpi mortal tak berdimensi. Sebuah dunia semu yang saya bangun dari tetes-tetes keringat sejuta malam-merasa sangat nyaman di dalamnya. Dimana kematian dan kehidupan adalah dua hal yang sangat berbeda, namun sama-sama saya hormati.

Sampai saya bertemu dengan Po.

Saya bertemu dengannya pada suatu malam yang tidak lagi menjanjikan waktu. Menit yang merambat terseokseok kelelahan. Pengen berhenti, katanya.

Malam itu akhirnya seperti freeze moment.

Saat itulah saya melihatnya.

Lelaki itu berdiri di sudut kelam. Matanya menelan malam yang yang telah mengukuhkan jemari gelapnya pada setiap penjuru semesta – menjadi beku (walaupun kenyataannya tidak pernah ada musim dingin atau musim salju di kota Bandung) – kental oleh rasa dingin dan kegelapan.

Sosok tampan yang terselimuti oleh dinding misteri di sekelilingnya. Bukan hanya selembar-satu-dua-tiga-empat...ah..saya tidak bisa lagi menghitungnya.

Kami saling memandang – menembus ruang galau yang terbungkus labirin-labirin tak bernama-labirin yang memeluknya begitu erat.

Tiba-tiba, saya terhanyut dalam dunia kecilnya yang begitu luas – dimana semua jalan terbentang tanpa sekat – lebih canggih daripada jalan tol yang katanya bebas hambatan – sebuah dimensi yang tak ternalar. Tanpa petunjuk arah. Bebas. Menyesatkan.

Detik itu pula saya tahu telah memasuki sebuah area terlarang, yang tabu untuk disinggahi. Namun apa boleh buat, saya terlanjur memasukinya. Terlanjur jatuh cinta pada dunia kecilnya yang bertahun-tahun kemudian membuat saya terseok-seok mencari jalan keluar.

Ia tidak pernah beranjak dari sisi saya. Tidak pernah meninggalkan dan selalu menjaga saya. ( Seperti anjing penjaga ?) Entahlah, tapi saya menyukainya. Merasa aman-terlindungi-nyaman. Benar, ia adalah pelindung saya-sampai saya menjadi ketergantungan-kecanduan. Addict !

Sekali, ia bilang, di dunianya itu ada seekor monster yang berkeliaran. Pemakan manusia, terutama bagian hati dan otak. “ Aku akan selalu menjagamu.” Begitu katanya. “ Tapi jangan pernah jatuh cinta padaku. Berjanjilah.”

“Saya berjanji!“ kata saya-waktu itu.

Dimulailah sebuah rekreasi di sebuah fantasi-dunianya. Dan saya pun hidup dalam ruang tak berbatas. Hidup dalam dunia surealisnya. Dimana siklus waktu tidak memiliki hitungan-namun sangat berarti. Tidak ada siang yang dikelabui malam. Saya hidup dalam sebuah dunia transendental-tempat dimana imajiner menjadi realitas yang sangat nyata. Dialog yang terjalin diantara kami adalah manifestasi dari ketiadaan yang hidup dalam sebuah mimpi tak berujung. Saya terlena.

Waktu selalu terhenti dalam dunianya-dan sangat cepat berlalu di dunia nyata. Dan saya yang menjadi tua telah melupakan apapun itu-yang pernah ada bersama saya. Saya telah menandatangani kontrak “untuk melepas segalanya” ketika saya memasuki dunianya. Saya telah lupa siapa saya sebelumnya. Apa saya sebelumnya. Mimpi saya sebelumnya. Harapan saya sebelumnya. Amnesia-akut-terlalu parah-sekarat. Saya, benar-benar telah melepas apapun itu-yang ada di luar dunianya.

Saya tidak keberatan-tidak sedih-tidak menyesal untuk mengabdikan hidup dalam dunianya yang tak beruang-berdimensi-bernalar.

Dan tiba-tiba, pada suatu pagi ia terbangun-dan menjadi orang lain-asing-alien-dengan barcode yang bisa diterjemahkan dalam arti “tidak dikenali”.

Ia meminta saya untuk pergi dari dunianya. Itu saja. Hanya itu.

Detik itulah saya tersadar-saya mencintainya.

Dan detik itu pula saya tersadar-saya telah menghkianatinya –dengan mencintainya, dan saya tidak memiliki apapun lagi.

***

Ia melempar tv dengan remote kontrol-tepat mengenai layar. Tv itu masih hidup-remote kontrolnya berantakan di lantai. Penyanyi itu masih terus meraungkan-entah apa-sebuah kerinduan-rasa sakit-atau penderitaan-mana ia tahu. Mungkin ia hanya sedang mengerang atau mungkin berdoa. Ah, perduli amat ! Suara-suara itu sudah terkalahkan oleh racau di dalam kepalanya sendiri. Racau yang kian mengeras-pecah menjadi milyaran suara lain, tanpa simbol-tanpa makna yang tidak dapat diartikan.

“C’mon Fana, dont be such a baby!” ia bergumam.-mengutuk dirinya sendiri. Tubuhnya bergoyang-goyang, ke depan ke belakang-ke depan ke belakang-ke depan ke belakang.

“Apa salahku ?”

“Kesalahanmu adalah bertemu denganku. “

Suara-suara itu menerkamnya, sekarang diiringi rekaman gambar yang terpotong-potong. Pecah menjadi alur slide yang loncatloncat-tidak lengkap-buram.

“Jadi kau ingin aku pergi ?”

“Tidak. Aku ingin kau menghilang.”

Ia menutup telinganya, memejamkan matanya. Potongan gambar itu tidak pergi. Suara itu masih mengepungnya. Penyanyi sialan di tv itu masih meraung-raung. Tubuhnya bergoyang-goyang, ke depan ke belakang-ke depan ke belakang-ke depan ke belakang.

Lama sekali...lama sekali...

***

Apakah true love itu memang ada? Eternal love-atau apapun namanya itu-memang benar-benar ada?

Dia pernah bilang bahwa ia hanya mencintai satu orang dalam hidupnya-cinta sejatinya. Ia tidak akan pernah bisa-lagi-mencitai siapapun. Siapapun ! Bahkan hanya untuk menerima-hatinya telah tertutup-mati bersama cintanya-cinta matinya.

Dulu...lama sekali, ketika saya belum mengenalnya-saya berfikir telah menemukan cinta itu. Pada seorang lelaki lain yang akhirnya meninggalkan saya dalam sebuah kehampaan janji-janjinya. Saya masih mencintainya, sampai lama. Saya pikir-saat itu-tidak akan pernah bisa mencintai siapapun lagi.

Sampai saya bertemu dengan Po.

Mulanya saya yakin bahwa saya tidak pernah – tidak akan pernah mencintainya. Saya salah besar.

Entahlah, semua yang saya lakukan rasanya memang serba salah dan serba benar. Mana yang salah mana yang benar-mana saya tahu. Saya bertanya pada Tuhan, sms, bahkan menelpon dengan saluran khusus menuju surga-dan jawabannya tetap sama ; CARI SENDIRI JAWABANNYA, NON !

Sudahlah, lupakan pertanyaan-pertanyaan tak penting saya pada Tuhan. Tidak pengaruh apapun karena akhirnya saya juga yang harus mencari sendiri. Dan ya..sedikit demi sedikit saya ( mungkin ) mulai menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tak penting itu. Jawaban yang teramat naif, namun mau tidak mau harus diakui ; ADA.

Ya, that eternal love does exist.

(Jawaban ini ditemukan secara tidak sengaja dan tidak bisa dihitung ala exact yang akan menghasilkan jawaban pasti-harus melalui serangkaian tes kepekaan rasa yang diambil dari teori-teori filsafat- si induk segala ilmu yang kemudian dipraktekan dengan percobaan pada diri sendiri).

Apakah true love itu memang ada? Eternal love-atau apapun namanya itu-memang benar-benar ada? Ya, memang ada!

Sekarang saya bisa mengatakan demikian, seperti saya juga akan mengatakan bahwa saya hanya mencintai satu orang dalam hidupnya-cinta sejati saya. Dan saya tidak akan pernah bisa-lagi-mencitai siapapun. Siapapun! Bahkan hanya untuk menerima-hati saya telah tertutup-mati bersama cintanya-cinta mati saya. Po.

***

Ia terbaring di lantai. Tergolek seperti mayat. Wajah pucat dan berkeringat dingin. Mata terpejam dan nafas pendek-pendek yang kadang ada-kadang berhenti.

“...This is the end, Beautiful friend..This is the end, My only friend, the end...Of our elaborate plans, the end...Of everything that stands, the end...No safety or surprise, the end...I’ll never look into your eyes...again...Can you picture what will be, So limitless and free...”[1]

Tv itu masih hidup-remote kontrolnya berantakan di lantai. Penyanyi lain muncul-mengganggu-masih terus meraungkan-entah apa-sebuah kerinduan-rasa sakit-atau penderitaan-mana ia tahu. Mungkin ia hanya sedang merintih atau mungkin berdoa. Ah, perduli amat ! Suara-suara itu sudah terkalahkan oleh racau di dalam kepalanya sendiri. Racau yang kian mengeras-pecah menjadi milyaran suara lain, tanpa simbol-tanpa makna yang tidak dapat diartikan.

Kedua tangannya terkulai lemas disamping tubuhnya. Yang kanan memegang sebuah suntikan-tidak berisi apapun- hanya berisi udara kosong yang siap disuntikkan tepat ke jantung. Very efective suicide mothod – painless-very quickly- very deadly-straight to heaven ( or not ?).

Sekujur tubuhnya gemetar. Di benaknya kini berputar satu rol film dari slide proyektor dua puluh lima tahun hidupnya. Indah-suram-bahagia-derita.

Inilah satu-satunya cara. Kematian akan membuatnya melupakan Po.. Kematian akan membawanya jauh dari kebrengsekan hidup yang memuakkan. Kematian akan mematikan setiap ingatan dalam sel otaknya. Ingatannya tentangnya.

Jemari gemetarnya bergerak. Menggenggam suntian itu dan sekejap ! Jarumnya tertancap tepat di dada kirinya. Ia mengerang, tubuhnya berkeringat semakin deras. Satu-dua-tiga...jemarinya bergerak. Perlahan, dicabutnya kembali jarum yang telah menancap di dadanya. Nafasnya setengah-setengah.

“...This is the end, Beautiful friend..This is the end, My only friend, the end...Of our elaborate plans, the end...Of everything that stands, the end...No safety or surprise, the end...I’ll never look into your eyes...again...Can you picture what will be, So limitless and free...”

Ia menutup telinganya, memejamkan matanya. Gambar-gambar buram dalam kepalanya tidak mau pergi. Suara itu masih mengepungnya. Penyanyi sialan di tv itu masih meraung-raung. Ia meringkuk, mengecil, seperti bayi, memeluk tubuhnya sendiri dalam kepekatan malam yang menghening. Ia memeluk dirinya sendiri...lama sekali...lama sekali...

***

Lelaki itu. Niskala, menghampiri dengan senyumnya yang dingin....

Tetapi tubuhnya hangat- sebuah pemberkatan bagi hati yang paling beku di dunia ini. Lelaki itu adalah bola mimpi yang mengapung dalam realitas yang saya bangun dalam dunia terbalik yang membelahku jadi dua. Menyuguhkan keindahan dan kehancuran dalam waktu yang bersamaan. Menghilangkan ketakutan sekaligus memunculkannya. Seperti placebo dan butterfly effect yang dicampurkan dalam satu gelas. Bertentangan-kontras-melengkapi. Healer and destroyer. Absurd-Perfect.

Entahlah, semenjak ia memasuki salah satu pintu diantara banyaknya labirin yang saya tawarkan, ia telah menyatukan semua yang bertentang dan kontras itu, sekaligus memisahkannya pula.

Jemari itu menyentuh dengan lembut. Saya membuka mata. Lelaki itu-tersenyum. Lembut-teramat lembut. Aneh. Sekeliling saya berubah menjadi ilalang merah-serba merah-merah-merah-langit yang juga merah-menyakitkan mata dengan sinar yang entah-menyerupai matahari-menerangi dimensi tak berbatas itu.

Lelaki itu memelukku. Hangat-tenang. Ia menyanyikan sesuatu...yang diulang-ulang...sayup-sayup...bibir merahnya bergerak-gerak, kelopak-kelopak bunga merah mengelilinginya-ikut menari bersamanya. Saya berusaha menangkap kata-katanya yang bergumam-gumam “...Wake from your sleep, the drying of your tears, Today we escape, we escape...”[2] berulang-ulang...berulang-ulang....sampai aku memejamkan mata.

Ia mencium-. Bibirnya hangat, basah, lembut-membawa pada visualisasi indah-panjang tanpa akhir.Saya menikmati ketersesatan dalam ciumannya. Mengkhianati realitas yang selalu saya agungkan dalam makian.

Senyumnya merahnya begitu tanpa dusta- Lelaki itu adalah mimpi tanpa janji-sebuah ilusi yang berputar dalam lingkaran tak bertepi-menghilangkan arti dari kata-kata yang tidak lagi diperlukan dalam dunianya. Benar, tidak ada kata-kata, tida ada arti, tidak ada simbol-tidak ada mortal....hanya dia, hanya saya. Hanya kami dalam dimensi serba merah dari kerajaannya kekalnya.

Saya menjelajahi ciumannya-yang tidak akan pernah bisa terasakan dalam realitas yang selalu membangunkan dari tidur yang tak pernah nyenyak. Saya menikmati pelukannya-yang tidak akan pernah saya miliki dalam realitas yang selalu menjauhkanku dari mimpi yang tidak pernah saya miliki.

Saya direnggut kenikmatan surganya. Saya menikmatin pelukannya-menjelajahi ciumannya. Sekali lagi menikmati anggur dari kerajaan kekalnya yang membuai. Di singgasananya yang besar, sebuah keajaiban terjadi lagi. Lelaki itu melepas jubah indahnya yang serba merah gemerlap. Membebaskan kulitnya yang secerah matahari siang-dalam dunia saya. Rambut merahnya terurai-menari-melambai...menyentuh. Kemudian ia memeluk-mencium lagi. Dalam kepasrahan saya menyerahkan diri padanya. Saya membiarkan dia menyetubuhi dalam dunianya yang tak berbatas-diatas ilalang merah, diantara bunga-bunga merah, dibawah langit merahnya.

Saya menikmati setiap ketersesatan dalam ciumannya. Dalam kerajaan merahnya saya menyerahkan diri padanya. Hanya dia-hanya saya-hanya kami berdua. Lelaki itu menatap-lembut dalam bening tetesan air mata merahnya yang membasahi-jatuh ke bibir- saya terbebaskan. Lelaki itu tersenyum lagi-dalam tetes air mata merahnya yang semakin menderas dan masih menyanyi “...Wake from your sleep, the drying of your tears, Today we escape, we escape...” berulang-ulang...berulang-ulang....sampai saya memejamkan mata....

Bandung, 13 Januari 2006 14.00 – 16.00



[1] The End, The Doors

[2] Exit Music, Radiohead

>> T. Ryan

The Photographer

Gedung tinggi di kawasan Improper Square tampak terlihat lesu siang ini. Apakah karena tidak kuat menahan panas matahari di terra ini atau karena tidak dapat menahan beban perasaan ribuan karyawan yang bekerja di gedung megah ini. Di lantai 18 terdapat sebuah ruangan yang terisi oleh 5 orang muda yang sedang melaksanakannya. Dua orang model, seorang photographer dan dua orang penata gaya. Mereka bekerja untuk majalah Harper’s Bazaar. Mereka masih asik dengan pekerjaannya masing-masing sampai ketika si photographer menyatakan selesai untuk photo session kali ini. Lalu ia (pun) membereskan kamera digital keluaran terbaru dari Nikon yang baru ia dapatkan seminggu yang lalu di Paris. Dan ia (pun) keluar dari ruangan itu. Terlihat sekali ia angkuh dari caranya tegak dan berjalan. Tetapi belum sampai 5 meter di lorong studio itu ia (pun) mendengar teriakan.

“Hei! Kamu mau ikut gak? Kita bentar lagi mau ke Starbuck!” teriak Marija seorang model keturunan Islandia.

“Hmmm…mending kalian duluan aja deh. Aku mau ke toilet dulu.” dengus si photographer.

Kemudian ia (pun) sudah berada di toilet pria yang bergaya sangat New York. Ia (pun) menuju wastafel yang terbuat dari bahan krom dan membasuh mukanya dari kumpulan air yang keluar dari kran tersebut. Lalu ia (pun) membasahi rambutnya. Tetesan air (pun) berjalan dengan mulus melewati bulu-bulu halus wajahnya yang baru tumbuh 3 hari, seakan-akan tetesan air tersebut di slow-motion kan layaknya di film-film. Ia (pun) melihat wajahnya kembali dan merasakan kulit wajahnya. Tapi ia terkejut karena getaran handphone-nya yang seolah-olah menyetrumnya melalui partikel-partikel kecil jutaan watt. Ia (pun) mengangkat handphonenya dan menjawab seperti orang yang habis kena serangan jantung.

- Halo! Siapa nih?

- Ro?! Lagi dimana? Ini gue Lasya. Gue Cuma mau bilang kalau dia udah nyoba bunuh diri lagi. Sekarang dia mau coba membakar tubuh!

- Apa!!? Dia mau coba ngikutin buku itu lagi??!

- Gue rasa iya. Untung tadi masih bisa gue cegah. Dia tadi baru numpahin bensin di kepala dan badannya. Keburu dilihat orang dan mereka pada curiga.

- Trus gimana lagi?!

- Kemaren dia nyoba ngiris tangannya pake cutter, trus seminggu sebelumnya dia nyoba nenggelemin diri di bak air rumah.

- Brengsek!!! Gue pengen tau dia dapet dari mana photocopy-an buku Episode IV itu. Ya udahlah kabarin gue kalo ada apa-apa. Oke. Gue harus kerja lagi.

- Oke. Tapi lu tolong nasehatin dia dong! Kita-kita disini udah pada males ngomongnya juga.

- Ya deh. Ntar gue coba. Gue harus cabut nih. Bye.

Si photographer (pun) kembali melihat cermin wastafel itu. “Brengsek!” gumamnya. Akhirnya ia (pun) keluar dari toilet dan kembali ke lorong sebelumnya. Disana model-model cantik itu sudah menunggunya bersama penata gaya dan editor mereka. Akhirnya dengan perasaan gundah ia (pun) berjalan menuju mereka dan bergabung untuk ikut bersama mereka. Ke..entahlah.

Just take me to where the fun exist and I guess..I need a girl tonight.”gumamnya di hati.

Mereka (pun) turun dari gedung itu dan berjalan bersama-sama di Improper Square yang dipenuhi oleh anak-anak muda yang berdandan tak kalah hebohnya dengan anak-anak muda Jepang yang biasanya nongkrong di Harajuku dan Shibuya. Mereka (pun) akhirnya berbelok menuju sebuah kedai kopi yang bernama Starbuck. Dan mereka mengambil posisi di dinding depan.

“Heh,kamu mau pesen apa?” Tanya Johan, editor mereka.

“Aku chocogrande frupaccio” jawab si photographer tenang.

“Gue cappuccino aja deh” sahut marija sambil meletakan tas burberry warna hijau lumut di depannya.

Sementara Anika model dari Hongkong itu memesan ice cappuccino yang diikuti seruan yang sama dari si penata gaya.

“Hei..dari tadi kok diam aja?”Tanya Marija.

“Oh..nggak. biasa aja kok. Aku lagi ada sedikit problem aja.”jawabnya malas.

“Ro, gimana spa yang di Jagatera itu. Enak ga?” Tanya Dauni si penata gaya dengan genit sambil menghembuskan asap rokok mentholnya.

“Sucks!”jawabnya dingin.

“Gue kemaren nyobain mandi lumpur ama di pijet eh..malah dikasih ama dua gedeg aneh itu. Ya terpaksa deh badan gue jadi objek mereka. Mana dipijit-pijit napsu gitu.”jawab si photographer.

“Ya ampun...kamu juga pergi ke tempat kayak gitu?” Tanya Anika heran,

“Iya.emang kenapa”Tanya si photographer galak.

“Ya.. aku kira.. kamu bakal seperti keadaan fisik kamu.” Balas Anika.

”Macho!” teriak Johan dengan ekspresi yang menyebalkan.

“Euffs..tolong jangan pake istilah itu! Gue jijik banget dengernya. Emangnya kenapa kalo laki-laki pergi merawat diri? Apa dia pasti di cap gay or what-so-ever?!”jawab si photographer sengit.

“Ya ampun..aku baru tau kalo kamu penganut paham itu juga. Kenapa gak dari awal ya aku bisa tau. Damn it! Metrosexual kan?”Tanya Marija.

“Betuuul”jawab Dauni dan Johan kompak. “Dia sih emang udah dari awalnya masuk ke majalah kita kayak gitu. Mana dia dari bandung lagi.”tutur Johan.

“Hah!? Kamu dari bandung juga? Wah..kalo gitu udah sering dong photo-photo artis yang lagi manggung disana. Aku juga dulu tinggal disana. Tapi Cuma dua tahun. Trus pindah ke Jakarta 2 tahun juga dan akhirnya pindah kesini.”cerita Marija.

“Ya.. gak terlalu sering sih photo-photo artis yang lagi konser.”jawabnya pelan.

“Kalo gitu pernah photo band yang namanya SID?! Bukan yang Superman itu, tapi yang Samantha Impossible Dream. Wah..gue lumayan suka tuh.” Tutur Marija manis.

“Yeah..aku tahu. Niskala kan? Aku lumayan kenal dengan dia. Tapi..aku gak tau apa dia itu masih idup atau udah mati. Lagi ngetop kok langsung menghilang. Dia Cuma mau disebut Rockstar aja.” jawab si photographer yang terdengar sedikit suara kemarahan di nada bicaranya.

“Wah..padahal dia kan lumayan bagus.” Sahut Dauni.

“Apanya yang bagus?” Tanya Johan, “Ya..badannya sih”jawab Dauni malu-malu. “Wah..kedengeran cowok lu, lu bisa di

KO-in nih ntar malam”balas Johan.

“Hei..kenapa tiba-tiba, Marija ngingetin aku soal masa lalu lagi ya. Aku gak akan mau disangkutkan dengan SID lagi. Itulah salah satu alasanku pergi ke kota ini.”gumam si photographer. “Niskala..aku harap dia mati. Percuma saja dia terlalu banyak mengharap. Ah..sudahlah lupakan saja. Kita harus selalu maju. Hmmm..tapi pikir-pikir, Marija kok mirip dia ya?” gelut batin si photographer.

“Hei..aku lupa nama kamu?”Tanya marija. “kita kan baru bekerja dua kali,tapi aku suka lupa dengan photographer favorit-ku.”desah Marija. Dan sekarang ia (pun) mulai mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyalakannya.

“Namaku Fero!” jawab si photographer singkat.

“Guys..aku rasa kita udah mulai kelamaan duduk di sini. Aku ada hal yang lain nih. Aku cabut duluan ya.?!”tutur si photographer sambil tergesa-gesa keluar dari bangku untuk berempat.

“Hei..!!” teriak Marija sambil berdiri dari bangku itu dan mengejar si photographer. “Kamu sibuk gak malam ini? Kalo enggak, how about you come to my place?”ajak Marija dengan sedikit rayuan strawberry-nya.

“Ya..ada sih. Tapi gimana kalau kamu aja datang ke tempat kerjaku yang di UnderZouk? Terus...habis itu kita bisa kemana pun yang kamu suka.” Jawab si photographer. “Is it a date?” Tanya si photographer dengan nada suara yang menggoda.

“Yup!” jawab Marija mantap. “Ok. I’ll catch you later at Under Zouk around 11. is that ok?” Tanya marija dengan sedikit harapan.

“Ok. Kita ketemu jam segitu, tapi aku baru selesai 1 jam kemudian.” Jawab si photographer seperti gayanya yang biasa.

Lalu ia pun melangkah keluar dari Starbuck dan mulai merasakan udara dingin sore hari di kawasan tersebut. Angin kencang pun menerpa wajahnya yang sedikit brewokan. Karena kota yang yang bergaya bak campuran New York ketemu Tokyo dan Bandung, sedikit dipersunting oleh wajah-wajah yang berkulit sawo itu sedang mengalami hujan angin hampir setiap sore. Meskipun di siang hari sangatlah terik dan orang-orang (pun) berpikir lebih baik diam di rumah dari pada keluar rumah. Si photographer (pun) mulai menyetop bis dan semenit kemudian ia sudah duduk di belakang supir dan di dekat jendela. Dan ia (pun) tiba-tiba teringat akan sticker yang dulu sering ia baca ketika masih di Bandung, yang biasanya ditempel di spion atau dashboard angkot yang bertuliskan “Yang cantik duduk di samping pak supir”. Ia pun merasa cantik meskipun ia duduk di belakang supir. Lalu ia tersenyum geli. Akibatnya ia (pun) harus perhatikan oleh 2 baris penumpang di belakangnya.

Fero tinggal di studio. Sebutan untuk rumah kost kecil yang tidak memiliki sekat juga tidak dibatasi. Hanya kamar mandinya sajalah yang diberi sekat dinding. Ia tinggal di lantai 3 dan ketika ia masuk, lalu ia (pun) mengambil minum air dingin. Dia tidak menyukai air es. Hanya air suhu ruang. Dan itu salah satu petunjuk dari betapa complicated hidupnya. Jam (pun) menunjukan baru pukul 4.tigapuluh sore. Fero memutuskan untuk tidur dulu sampai jam 8 dan ia akan pergi ke UnderZouk jam 8.tigapuluh malam. Lalu ia (pun) membuka bajunya dan hanya memakai boxer hitam lalu ia (pun) membanting dirinya ke tempat tidur. Pukul 8 malam alarm ayamnya mulai berteriak gaduh. Otomatis ia terlempar dari tidurnya. Dan ia (pun) bergegas mandi dan berpakaian. Malam ini ia hanya memakai t-shirt hitam UnderZouk dan celana jeans favoritnya. Ia bekerja sebagai waiter kadang bartender. Tapi malam ini ia akan menjadi bartender karena Ali si kepala bartender memintanya. Ia (pun) tiba di UnderZouk melewati pintu belakang. Dan suara hingar bingar (pun) mulai meresap di gendang telinganya. UnderZouk adalah klab malam yang menempati urutan ke-2 di kota itu. Tempat yang merupakan franchise Zouk Singapore itu, menawarkan hampir segalanya. Semua orang tau kalau UnderZouk itu tempat “terkutuk”. Klab itu sangat Eropa. Dan hampir bisa dibandingkan dengan Avalon Club di New York. Hanya bedanya Avalon itu dulunya gereja gothic yang diubah menjadi salah satu klab malam yang terkenal. Di UnderZouk dengan interior campuran gothic dan era Baroque, terdapat 5 platform yang berisi 5 gadis berpakaian minim di kurung seperti di dalam sangkar dan 2 diantaranya berkepala botak. Disamping itu terdapat 3 Fly Girls yang bermain ayunan yang menyapu hampir di seluruh ruangan besar itu. Di kelas VIP hanya para artis dan kalangan berduit saja yang mampu menyewanya. Di tempat itu biasanya sering terjadi orgy party dan gosipnya P.Diddy pernah 3 kali melaksanakan pesta tersebut di ruangan yang lumayan kecil itu termasuk para bouncers-nya. Malam itu UnderZouk sangatlah penuh dan sangat susah untuk duduk. Namun akhirnya Marija (pun) datang sendiri. Di antara kerumunan orang. Ia (pun) menuju bar dan melihat Fero beraksi. Dan 5 menit kemudian Marija dapat duduk di bar setelah 3 orang bouncer UnderZouk memapah 2 orang yang mabuk di bar.

“Rame banget ya!”teriak Marija.

“Iya!! Klab terpaksa ditutup dulu sampai jam 12. Rekor banget hari ini.”balas Fero sambil berteriak. Karena percuma saja mereka berbicara sambil di-soundtrak-in lagu dari the Rapture yang sangat heboh itu.

“Aku bentar lagi selesai”teriak Fero lagi sambil mengocok gelasnya. “Kamu mau minum gak?”tanyanya lagi.

Do you have cosmo? Ada gak?”teriak Marija di kuping Fero yang secara tidak langsung membuat Fero horny dan juga geli. “You got it!” balas Fero tersenyum manis lalu mulai beraksi di depan para tamu-tamunya.

Setelah sejam menunggu akhirnya mereka (pun) keluar dari UnderZouk. Udara malam (pun) menerpa wajah mereka. Kedua orang tersebut sudah memakai jaket mereka dan kalau mereka berbicara uap (pun) keluar dari mulut mereka. Mereka (pun) kemudian menyeberangi gedung sky lab dan berjalan di jembatan yang di tiap sisi-nya terdapat lampu-lampu khas zaman dulu. Dan mereka (pun) sudah terlihat sangat akrab sambil kadang-kadang meremas tangan satu sama lain dan kadang berpelukan. Suatu awal hubungan yang sangat aneh.

“Jadi..kamu tipe orang yang romantis?”Tanya Marija sambil berjalan tak beraturan dan memasukan tangannya di kantung jaketnya.

“Hah..??! Aku romantis?! Kalau temen-temen aku denger bisa di ketawain nih. Lagi pula aku bukan tipe romantis. Kamu tau, aku pernah dengar kalau romantis itu adalah paham seseorang..eh bukan paham ding! Atau apalah yang bilang kalau romantis itu orang yang suka ingat akan masa lalu. Jadi selalu teringat akan masa lalu. Sedangkan aku! Boro-boro mau ingat masa lalu.” Teriak Fero sambil diiringi gelak tawa yang menyatakan bahwa ia memang butuh teman untuk bicara. Lalu ia (pun) mulai menyusuri sisi kanan jembatan itu. Jembatan itu di malam hari sangatlah indah dengan latar belakang gedung-gedung tinggi dan ratusan lampu yang menyinari daerah tersebut melalui gedung-gedung pencakar langit.

“Kamu tahu, kalau aku dan Niskala itu dulu saling mengenal.” Tutur Fero sambil merapikan rambutnya.

“Huh?! Kamu serius?!”balas Marija seraya memalingkan mukanya ke sisi sebelah kiri.

“Dulu kita pernah berada di satu panti asuhan yang sama. Sampai akhirnya dia diadopsi keluarga brengsek itu. Dia selalu menulis surat padaku dan dia juga menceritakan bagaimana ia menjadi sedikit biseksual akibat perlakuan keluarga angkatnya. Dan bagaimana ia harus melayani seks yang dibutuhkan ibu angkatnya dan kakak-kakak angkatnya. Tapi aku pernah melihat kakak angkatnya dan mereka cantik semua. What a lucky bastard!” teriak Fero sambil mengepalkan tangannya keatas. “Tapi dia tersiksa. Sampai akhirnya aku menonton show band-nya dan aku photo dia. Itu pertama kalinya kita bertemu semenjak berpisah di panti asuhan. Dan hebatnya lagi dia lupa dengan aku. Sahabatnya yang terbaik.” Sahut Fero dengan muka yang merah menahan geram. “Makanya waktu kau bertanya soal SID, tiba-tiba saja aku merasa terhantam oleh masa lalu yang tidak menyenangkan itu.” Balasnya lagi seraya duduk di trotoar dan memegang kepalanya.

“Wow..what a truth confession. Aku gak nyangka kalau dia temanmu waktu kecil.”Marija mulai bersuara. “By the way..aku minta maaf kalau udah mengingatkan-mu tentang dia”balasnya lagi sambil merangkul Fero.

“Itu lah salah banyak, bukan salah satu alasan kenapa aku bukan orang yang romantis. Mungkin kedengarannya murahan ya.” Suara Fero seperti tercekik.

“Ya sudahlah. Ayo lupakan masa lalu! Sekarang mau kemana nih?” Tanya Marija tidak sabar.

“Aku gak tau” jawab Fero kalem.

“Gimana kalau ke tempatmu?” Tanya Marija lagi.

“Terserah lah. Yang penting aku mau santai dan ngerasa cozy aja dimana pun itu tempatnya.”sahut Fero.

“Ya..ayo berdiri! Ayo” paksa Marija seperti kepada anak yang dipaksa ibunya berjalan.

Akhirnya mereka (pun) pergi ke studio Fero. Dan di ruangan kecil itu mereka minum dan bicara sampai pagi. Sampai akhirnya pembicaraan mereka berakhir di.. ya ditempat mereka masing-masing lah! Karena Marija nginep disana otomatis dia dapat tempat tidur dan Fero terpaksa tidur di bawah karena dia tidak punya sofa. Pemandangan ini terlihat sangat aneh. Meskipun awalnya Marija mengajaknya untuk tidur bersama dan di tolak oleh Fero. Karena ia mempunyai rahasia yang tidak ingin orang ketahui bahwa di usia-nya yang ke 27 ini, ia masih perjaka. Hal yang sangat bertentangan dengan dunia kerjanya yang banyak menawarkan pilihan wanita-wanita cantik. Mereka (pun) terbangun pukul 9.tiga puluh pagi. Dan Fero (pun) memulai harinya dengan minum teh hangat dan menatap Marija yang masih belum sepenuhnya bangun dengan tatapan yang lain dari biasanya ia menatap wanita. Dan ia (pun) berpikir:

“Apakah dia yang akan menjadi orangnya?” sahutnya dalam hati seraya meneguk kembali tehnya.



Catatan editor: Seluruh kata “pun” dalam fiksi ini adalah format asli yang dutulis oleh penulis. Saya menambahi tanda kurung hanya untuk menandai bahwa kata itu boleh dibaca atau diabaikan. Seharusnya sebagai editor saya berhak menghapusnya, tetapi saya pikir ini adalah orisinalitas yang perlu dijaga dan menandakan khas penulis.

Btw, fiksi ini adalah debut cerpen penulis. Sebuah debut yang lumayan, Bro...! Terus menulis!

>> Iman Rahman Angga Kusuma a.k.a. Kimung

Sebuah Elegi

Kala itu senja begitu merah di ufuk barat, saat seseorang menepuk punggungku di sebuah kedai kopi kecil tempat biasa aku nongkrong habiskan senja dan menyambut malam.

“ Halo Mung!”

“ Niskala! Halo Nis, lama tidak jumpa sejak terakhir kali kubaca kisahmu di episode IV..Well, kematian yang eksotis !”

Kami berpelukan. Lalu berjabat tangan dengan sangat erat dan melakukan salam khas kami.

“ Terima kasih. Itu sanjungan buatku,” Niskala tersenyum,” So, kau disinilah waktu-waktu belakangan ini ?” tanyanya kemudian.

“ Ya. Doing this, doing that, apapun, mengirim wanita-wanita penghibur ke berbagai negara di Asia Timur, berdagang gajah, daging banteng, ganja...apapun lah ! Kau sendiri kulihat begitu enjoy dengan motor tua itu?”

“ Ya, kurasa aku jatuh cinta pada motor ini. This is my real bride, Pal !” jawab Niskala sambil mengusap-usap bulu-bulu liar di sekujur wajahnya.

Wajah itu, begitu kuasa waktu merubah seseorang, sesuatu. Begitu kuasa pula waktu merubah Niskala. Segalanya. Wajahnya semakin penuh dan tegas. Cambang, kumis dan janggut, liar tumbuh di bagian manapun seluruh tubuhnya. Kulitnya tambah kecoklatan dibalut busana jubah kulit kumal yang menambah penampilannya semakin ‘berdebu’ setelah entah sekian kilometer ia tempuh jarak berpacu dengan kecepatan motornya. Ia tampak lelah. Menurutku ia harus beristirahat.

“ Aku sengaja menemuimu dalam perjalananku ini, Mung. Aku kangen kamu. Pingin tahu kabar kamu...” Ia bertanya sambil merapikan kemejanya yang selalu tak terkancing bagian dadanya seakan sengaja menentang angin. Angin menurut Baskoro temannya adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling tidak memiliki sopan santun. Menjamah tubuh siapa saja tanpa ijin...

“ Untuk ukuran mayat hidup yang telah empat tahun berkeliling dunia, kau nampak jauh lebih segar kini...” kataku sambil menghirup kopi kentalku.

“ Ya...sejak seluruh dunia tahu aku telah mati, hidupku kian membaik. Kau tahu kata orang kalau kematian itu adalah suatu pembebasan? That’s not a bullshit, Man! Aku telah membuktikannya and I’m a freeman, now !” ujarnya sambil menggerling ke arahku.

Kerlingan yang sama dengan kali terakhir kali aku bertemu dengannya sekitar tujuh tahun yang lalu. Selebihnya, Niskala Sang Rockstar. Begitu sulit aku bertemu dengannya. Bukan karena ia tipikal superstar sombong yang tak mau menemui sahabat lamanya, tapi karena memang kesibukannyalah yang membangun jarak diantara kami berdua. Kesibukan itu pula yang telah menjenuhkan Niskala yang kutahu pembosan, dinamis dan tidak mau stuck di satu titik. Kesibukan itu pula yang membuatku tahu segala sepak terjang Niskala. Termasuk kasus bunuh dirinya dalam konser terbesar SID-Samantha Imposible Dream-Bandnya. Semua orang bersedih. Semua orang menangis. Semua orang menabur bunga di makam Niskala.

Tapi aku tidak.

Aku tahu obsesi terbesar Niskala adalah berjabat tangan erat dengan apa yang orang namakan kematian. Ia selalu menganggap kematian adalah sesuatu yang eksotis. Seeksotis Samantha, kekasihnya yang tak pernah ada. Tapi aku akan sangat tahu apabila Niskala benar-benar melakukannya. Entahlah. Walau kami terpisah dinding ruang dan waktu, jauh di lubuk jiwa, kami selalu tahu apa yang sedang kami pikirkan masing-masing.

Dan aku benar. Tepat satu minggu setelah berita kematian Niskala Sang Rockstar di Publikasikan besar-besaran di seluruh media massa, sesosok tubuh gelap dengan wajah lebat tertutup kumis dan janggut yang panjang dan liar menghampiriku di sebuah Bar murahan tempat biasa aku mencari wanita teman tidurku setiap malam. Jangan salah. Bar ini memang murahan dan pengap. Tapi wanitanya terkenal ke seantero negeri sebagai wanita penghibur paling hot.

“ Hai Mung, ini aku. Apa kabarmu ?” katanya

“ Niskala !! Sudah kuduga !” teriakku.

Kami berpelukan begitu erat, saling tertawa bekakakan dan melewatkan malam dengan bergalon-galon wiski sambil bertukar cerita dan kenangan. Dan bergulirlah semua rencana itu. Niskala perlu identitas baru setelah sebelumnya ia memalsukan mayat dan sertifikat kematiannya. Tak masalah kataku. Dan dua minggu kemudian identitas baru itu telah okay-used dan Niskala membeli sebuah motor tua.

“ Bagaimana pendapatmu ?” katanya sambil memamerkan jubah kulit, bandana, dan motor tua berisik itu.

“ Cool...” kataku tanpa minat.

“ Dengar Mung, aku mau mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu. Sepertinya kini waktunya kita berpisah. Aku harus pergi. Aku tidak mau tinggal di satu tempat dalam waktu yang lama. Segera kita akan bertemu lagi...i promise...” katanya.

“ Kemana kau mau pergi?” tanyaku.

“ Entahlah. Ke barat kurasa...the west is the best[1]..bukan ?” , katanya sambil tersenyum.

“ Sepertinya tak ada alasan lagi aku menahanmu lebih lama untuk bersenang-senang bersamaku di sini. Pergilah, kawan. Hati-hatilah dengan angin yang tak sopan menjamah tubuhmu tanpa izin...” kelakarku.

“ Kau yakin tak mau ikut dalam perjalananku ?” tanya Niskala.

“ Tidak” , dengusku sambil menggelengkan kepala, “ Aku cukup bahagia disini. Aku punya rumah. Aku bisa berenang kapan saja aku mau di laut. Tempat ini adalah surga buatku. Tempat ini menyediakan segalanya. Wanita. Bir. Wiski. Bisnis. Uang cepat. Aku bahagia di sini. Entah nanti...”

“ Baiklah...”

Dan beguitulah aku melepasnya pergi pada suatu senja merah darah di suatu batas kota. Setelah berfoto dan satu pelukan erat, tanpa kata lagi ia pergi.

Dan kini kami bertemu setelah empat tahun tidak bertemu.

“ Kemana saja kau empat tahun ini dengan sepeda motor butut itu ?” tanyaku.

“ Been...everywhere...hampir seluruh Indonesia kutelusuri. Aku sedang memikirkan untuk menjelajahi seluruh dunia...” katanya sambil menghirup kopinya. “Dengar Mung ikut denganku. Kita bisa lihat begitu banyak tempat di seluruh dunia. Kita bisa bebas berteriak pada matahari di jalanan terik. Kita bebas mencumbu malam yang indah...kita...banyak yang bisa kita lakukan bersama-sama. Dengar, waktu aku di Kalimantan aku......”

Selebihnya aku tidak begitu yakin mendengarkan ocehannya tentang perjalanan yang telah ia tempuh selama empat tahun mengisi kemerdekannya, menikmati identitas anonim yang kini ia sandang. Tapi aku menikmati saat-saat kebersamaan ini.

Jujur, aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya yang terkecil, terdalam, dan terjujur. Dan menurutku, semua pikiran itu terlalu besar untuk ditampung dalam keterbatasan tubuhnya yang kini kian ringkih dan layu. Tapi aku bahagia bahwa ia tetap kuat. Bahwa ia tetap tersenyum. Bahwa ia tetap tertawa bekakakan. Tak ada yang berubah dalam Niskala. He’s still my old Nislaka...seperti Niskala dalam foto terakhir kami, empat tahun yang lalu sebelum ia pergi.

Hingga adzan subuh mulai berkumandang.

Aku lihat ia mulai gelisah. Dan aku tahu apa yang akan terjadi kemudian. Ia tersenyum padaku. Menggumamkan kata-kata yang tidak benar-benar kupahami lalu beranjak menaiki motornya.

“ Bye...andai kau bisa ikut denganku...” katanya.

Aku hanya tersenyum.

Dan sebelum kakinya menjejak step motor tuanya ia telah melesat meninggalkan ufuk timur yang semakin terang....

28 Februari 2004



[1] Dalam lagu The End, The Doors (ed.)

>> Ujianto Sadewa

Dix and The Psoriasis*

Dix menjelang remaja, ketika ayahnya wafat. Usia ketika

Dix mulai menggemari selancar di pantai. Lukisan-lukisan

monokromatik dengan gaya surealisme di garasi dan sebuah

gitar tua Gibson Les-paul 1964. Dix tahu, ayahnya tak

mungkin mewariskan sebuah perusahaan dan akomodasi

turistik baginya, sebab sebagai seniman sejati seperti

ayahnya—untuk hal ini Dix merasa ayahnya mirip dengan

Victor Jara[1] —telah benar-benar kaya. Pengetahuan dan ilmu

tak tergantikan oleh harta-benda. Dan jikalah memang harta

benda bisa membayarkannya akan aku habiskan semuanya.

Demikian sabda Goethe[2] yang terkenal itu . Dix teringat

cerita ibunya, seorang wanita Austria. Bagaimana ia jatuh

cinta pada sang bapak. Kesederhanaan. Betapa lagu-lagu

folk yang dilantunkan seorang pemuda Jawa dapat melabuhkan

hati dan langkah kaki seorang backpacker yang telah

mengunjungi semua benua. Ayah Dix tak pernah mempunyai

keinginan, demikian cerita ibunya, karena percaya bahwa

keinginan adalah sumber penderitaan.[3]

Dix yang pernah dialiri air susu di kerongkongannya yang

membuatnya tumbuh. Itulah harga yang dibayarkan ayahnya

ketika menyanyi dengan suara baritone, dengan musiknya

yang biasa tapi magis. Justru dengan itu, ia pemusik yang

tidak pernah terkenal.

Juga ketika sebagai anak-yatim, Dix menulis lagu

pertamanya. Sebuah lagu tentang perempuan tua yang

tertawa[4]. Beberapa tahun kemudian, kelak, Akva mendengar

sepotong lagu ini dinyanyikan pada acara ulangtahun Mirak

yang keduapuluhtiga di kedai kebun.

Dix, orang yang soliter, cenderung pasif, yang lebih

banyak diam daripada bicaranya. Begitu soliternya

mungkin, dan karena sifat individualnya itu, band

terakhirnya Los Prisoneros[5] bubar. Tidak bubar sebenarnya,

melainkan dua anggota lainnya memutuskan untuk keluar.

Kedua anggota Los Prisoneros yang keluar itu adalah

saudara kembar Erva (biola) dan Ervi (gitar)[6] , sebelumnya

mereka berdua adalah pentolan Samantha Imposible Dream

(SID) yang vakum setelah ‘kematian’ dua frontmannya

(Niskala dan Karna)[7] . Erva dan Ervi serta Dix di Los

Prisoneros menghasilkan dua album dengan format

folk-klasik yang tidak laku di pasaran , tapi punya

penggemar fanatic di kedai kebun.

Sebagai formatur band ini, tentu saja Dix kecewa. Tapi ia

jalan terus dengan konsep onemanshow band. Ia beri nama

band solonya itu Psoriasis. Sebuah kata yang

mengingatkannya pada Tia Ivanka. Ini benar-benar band

independent-individualis dalam arti sebenarnya. Tanpa

pemain tambahan, sekalipun bermain di panggung.

Keterlaluan memang, tapi perlahan-lahan public kecil yang

berkumpul di kedai kebun menjelma menjadi penggemar

fanatiknya. Tapi perlu dicatat bahwa Psoriasis lebih keren

bila didengarkan rekaman kasetnya. Karena terkesan brutal,

chaos dan disharmonik. Semua instrument dimainkan sendiri

oleh Dix. Kalau bermain live di atas panggung, kesan

brutal dan chaos langsung hilang berganti dengan seorang

dengan sosok biasa yang bermain gitar kopong dengan

harmonica, kadang-kadang akordeon.

Menurut Akva, Dix itu pemusik dengan dua kepribadian dan

setiap musik yang dibuatnya selalu punya dua sisi. Kata

Akva, kemampuan Dix bermain gitar kopong sama baik dengan

kemampuan Dix memukul drum.

***

Masih ingat dengan Yane? Pemain piano itu. Mantan pianis

SID itu merilis solo-album pop-melankolik yang sangat laku

di pasaran. Tapi dihujat habis-habisan oleh para penggemar

fanatik SID yang tidak ikut-ikutan insiden bunuh diri yang

menghebohkan beberapa tahun lalu. Atas hujatan itu Yane

menyarankan pada para pembeli albumnya untuk menghancurkan

rekaman album yang laku sampai 4 juta kopi itu—tanpa

dibajak--. Keuntungan finansial dari penjualan itu

seluruhnya ia sumbangkan seluruhnya ke panti asuhan yang

pernah merawat Niskala semasa balita, dulu.

Bergabung lagi dengan Erva dan Ervi yang telah keluar dari

Los Prisoneros untuk membuat album Samantha Imposible

Dream, Reunion Trio. Reunion Trio—mereka bertiga sepakat

bahwa Reunion Trio adalah band side projek—kemudian

menjadi album yang menakjubkan, demikian kata banyak

pengamat musik dan jurnalis budaya. Memanfaatkan laptop

peninggalan Niskala yang berisi program-program musik,

spokenwords, puisi, dan narasi-narasi panjang berisi

penggalan tragedi hidup Niskala Ruhlelana yang dibikin

buklet khusus album itu.

***

Memang tak seorang pun yang pernah menemukan mayat

Niskala. Menurut para analis kejiwaan dan investigasi

kepolisian, Niskala tidak pernah memilih empat metode

bunuh diri itu. Spekulasi mengatakan bahwa ia naik sepeda

motor Husqvarna-nya sampai ke atas tebing di atas laut,

lalu loncat ke dalam laut, tamat. Tapi orang-orang tak

juga menemukan sepeda motornya.

Adapun Dix, setelah Reunion Trio menjadi album fenomenal

tahun ini, ia menjadi additional player untuk sesi drum.

Album Reunion Trio membuka mata persepsi Dix mengenai

pentingnya bersosialisasi.

Selepas album ini, Samantha Imposible Dream (SID)

benar-benar bubar. Mereka berempat sepakat menggunakan

kembali nama Psoriasis, tanpa sisa-sisa program musik

komputer Niskala. Benar-benar tanpa Niskala. Tanpa

Niskala.***

Psoriasis adalah Yane (Piano, Hammond B3, Akordeon,

Vokal), Erva (Biola), Ervi (vocal, gitar, dobro), dan Dix

(Drum, akustik gitar, harmonica).

*Sebuah sinopsis dari cerita yang lebih luas.



[1] Victor Jara, Pemusik folk asal Chile

[2] Goethe, sastrawan legendaries dari Jerman. Memiliki IQ 210

[3] Terdapat dalam lagu Iwan Fals

[4] The Old Laughing Lady (5:15), Neil Young @ 1968 Cotillion Music BMI. Juga terdapat dalam Neil Young Unplugged, Reprised Record, 1993.

[5] Los Prisoneros adalah juga band yang dibentuk mantan pemain sepak bola asal Chile beserta beberapa narapidana.

[6] Erva dan Ervi, sepasang saudara kembar, tidak menonjol pada band mereka sebelumnya Samantha Imposible Dream (SID).

[7] Kisahnya dapat dibaca dalam novel “Episode IV”, Ervin R, Draft, Samantha School, 2004

>>aida vyasa

Sekala & Niskala

(Hiperealitas bertemu dalam satu selimut)

untuk view lebih indah, silakan ke aidavyasa.multiply.com

Pagi ini, ulang tahunku yang ke-18, dan aku mengatakan pada Niskala, kalau Nietzsche benar tentang kematian Tuhan. Yah! Nietzsche bersikeras kalau Tuhan itu sudah mati, dan itu benar adanya. Dia katakan itu karena mitleid; belas kasihan atas kematian Tuhan yang dibunuh oleh manusia. Kau tahu dengan apa? Yah! Semalam aku melakukannya.

Ciuman pertama dengan Niskala. Simulasi basi akan sebuah impian percintaan birokrasi. Kau akan tahu apakah itu. Yang penting; satu sarung pedang untuk dua bilah pedang itu artinya, satu pedang harus mengalah. Pedang siapakah? Kekaburan antara realita dan maya akan membuat kita menemukan jawaban perlahan.

=== *** ===

Namaku Sekala. Aku bertemu dengan Niskala saat umurku 10 tahun, dan sudah delapan tahun aku berteman dengannya. Tapi, aku merasa bahwa 2500 tahun yang lalu ia adalah suamiku; yang mengajarkan bagaimana mencapai pengalaman spiritual saat bercinta. Di umurku yang ke-18 tahun itu, aku menikahi Niskala. Pernikahan yang dianggap sebagai gerbang suci itu aku lalui. Saat itu tubuhku menggelijang rindu tak karuan. Aku segera ingin memeluk Niskala tanpa henti. Aku sungguh memujanya. Dan setelah pintu pernikahan terbuka, mulailah aku membuka kelambu yang menutupi diri.

Jauh sebelum pernikahan, aku sering bersiteru tentang wanita dengan Niskala. Ia mengatakan bahwa untuk menggambarkan seorang wanita itu sangat mudah, yaitu kehamilan. Bagi pria, wanita adalah hiburan yang menakutkan; dan bersama wanita adalah permainan yang membahayakan. Sekali sentuh, kau tak hanya mengeluarkan banyak peluh dan sperma, tapi kau akan mengeluarkan banyak uang untuk masalah kehamilan dan pengguguran. Aku setuju dengan ucapannya, akan tetapi marah. Aku marah tidak dengan Niskala tercintaku itu, tapi aku marah pada diriku sendiri sebagai seorang wanita yang rela di bunuh oleh pria hanya dengan sekali dekapan semalam.

Dilain sisi, aku bangga sebagai wanita. Ya! Perempuan yang bisa merebut hati kanak-kanak dalam diri seorang pria. Maka itu aku mampu menjaring Niskala untuk masuk dalam hatiku. Dan Niskala berkata bahwa untuk mendapatkan pengalaman spiritual, ia tidak akan menegak LSD; melainkan merasakan kenikmatan luar biasa dengan menghabiskan malam dibawah satu selimut denganku. Dan malam itu, aku melihat semangat Osho diatas ubun-ubunnya. Ketika tubuhnya bergetar atas tubuhku, ia berbisik, bahwa aku akan mati beberapa kali dalam siklus hidupku. Ia mendesah, “Kau akan mati lagi, sayang. Aku menghamilimu ......”, dan ia meneruskan aktivitasnya atas diriku.

Saat itu pikiranku kemana-mana. Ketika Tuhan berfirman tentang cinta, Ia menciptakan ikan dan cintanya ditunjukkan dengan laut. Luas dan membebaskan. Ketika manusia bersabda tentang cinta, ia akan menciptakan seorang istri/suami dan cintanya ditunjukkan dengan pernikahan. Sempit dan mengikat. Aku mengatakan hal ini bukan untuk memberitahukan betapa basinya pernikahan. Akan tetapi sekedar mengenalkan betapa indahnya sebuah pernikahan jika di dasarkan cinta. Meski sekarang aku penganut rumusan 70% + 30% = pernikahan (ini rumusan yang diberikan teman beberapa waktu sebelum akhirnya ia mengakhiri masa lajangnya), aku tetap memegang prinsip bahwa nikah lebih indah dengan cinta.

Sempit dan mengikat? Ya! Cinta manusia itu sempit dan mengikat. Tapi kehangatan akan mudah dirasakan dalam ruang yang sempit dan mengikat. Tuhan mengenal baik makhluk kesayangannya itu. Cintanya yang tidak seluas cintaNya, hanya bisa dirasakan kehangatannya dalam ruang yang sempit dang dengan objek yang tak banyak gerak. Ini manusiawi. Inilah manusia. Maka itulah muncullah istilah pernikahan; sempit dan mengikat. Terserah jika kalian menganggap bahwa apa yang kusampaikan akan menjadi hal yang membuat seseorang menjauhi pernikahan dalam bercinta. Karena jika seorang anak manusia mampu memberikan cinta mininya itu dalam ruangan yang luas dan dengan objek yang tidak terikat, maka ia tidak manusiawi. Bisa jadi ia malaikati atau malah hewani; tergantung apakah ada nilai sacred yang dipegangnya atau tidak.

Aku pernah dengan ½ marah mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah insitusi basi. Yang kulakukan hanyalah sebuah pancingan kepada seseorang (ia seorang pria) itu, agar ia mengatakan dengan jujur, apa yang dipikirkannya tentang sebuah pernikahan. Pria itu menjawab kalau apapun istilahnya, institusi ataupun birokrasi, yang penting pernikahan itu mencegah masturbasi dan onani. Aku menghargai pendapatnya. Senyuman kusematkan, tapi aku tidak sependapat. Pernikahan adalah cara seorang anak manusia menunjukkan cintanya. Memang sempit dan mengikat, tapi inilah manusia; mencoba menjadi miniatur Tuhan karena dalam dirinya terdapat nilainilai ilahiyah; mencipta dan berkreasi dengan cinta.

Menghindari masturbasi/onani dengan menikah adalah alasan paling rendah bagi seseorang untuk memasuki gerbang sakral pernikahan. Sama ketika kita ingin memasuki sebuah masjid hanya untuk buang air. Melepaskan yang hina untuk menggapai rasa puas sementara. Kalian pasti tahu kalau masturbasi/onani adalah kenikmatan sementara; sedangkan pernikahan dicipta untuk halhal yang tidak bersifat sementara. Ia to be continued; karena anak keturunan yang dihasilkan.

Tapi, cinta tak dapat ditemukan dalam buku-buku dan tumpukan tulisan para pujangga dan ulama. Apapun dan siapapun penulis dan yang ditulisnya tentang cinta, itu bukanlah cinta!

Tubuhku masih meliuk dalam genggaman suamiku, Niskala. Dan ia terus berbisik, “Wanita Seth-ku, kau akan mati lagi, sayang. Aku telah membenihimu! I love you!” Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Sitar itu bergemerincing dan nada-nada musik Mesir Kuno menggema ditelingaku, dan aku hanya melihat Niskala, lelaki setengah Arab kelahiran Banten itu memejamkan matanya perlahan ketika ketegangan berakhir. Dalam remang-remang kamar yang brownish itu kuperhatikan secara seksama kalau darah Arabnya tersamar dalam darah Sundanya. Sejak ia mengubah namanya menjadi Niskala, aku pun merombak diriku untuk menjadi Sekala-nya.

Inilah, persis yang dikatakan Nietzsche, bahwa Cinta dan Penyerahan, keduanya sudah berima sejak keabadian ada. Kehendak cinta adalah kerelaan untuk dikorbankan. Dan Tuhan mati saat Nafsu tiba. Dan inilah Sabda Zarathustra, wahai Sekala dan Niskala.

Singkat kisah, Sekala dan Niskala menikah.

Ah!

Itu bukan realita. Lalu kutanya, “Apakah adegan itu tadi?” Nyatakah?

Lalu aku kembali mengingat-ingat. Benarkah aku mendapati itu semua dalam hidupku? Hidup yang mana?

= = = = * = = = =

Abnormalitas!

Banyak yang menganggapku begitu. Bahwa aku menyimpang dari norma-norma seksual dan sosial yang berlaku. Sosial yang mana? Seksual yang seperti apa? Aku bukan masokisme atau sadisme. Aku hanya memandang dunia ini chaos. Berupa sebuah fenomena yang tidak mungkin diprediksi arah perkembangan kemana aku, manusia dan segala ciptaan Tuhan akan melangkah. Mereka mengatakan bahwa aku harus menikahi seorang arab jika diriku arab, atau aku harus tinggal di Aceh jika aku seorang Aceh. Akan tetapi tidakkah mereka memahami adanya fluktuasi dalam diri yang tidak beraturan dalam perkembangan budaya semacam itu?

Kisah Sekala dan Niskala diatas hanya fiksi belaka. Ternyata itu adalah karya naratif yang melukiskan sesuatu yang bersifat imajiner dan tak nyata. Tapi aku mengikuti apa kata Paul Ricoeur bahwa fiksi berpotensi untuk menjadi kenyataan. Yah! Aku akan mewujudkannya. Bercerita tentang matinya Tuhan, simulasi dan hiperealitas di bawah satu selimut dengan Niskala.

Mungkin seperti Fantasmagoria? Bahwa tokoh-tokoh itu muncul lalu menghilang, bisa nyata dan imajiner dan itu karena banyak hal. Sebut saja, Niskala muncul karena internet, lalu karena telepon genggam, kemudian ia masuk melewati beberapa lagu seperti Radiohead yang kemudian ia mengajari bahwa, “Sekala, The National Anthem ini adalah lagu kebangsaan kita.” Aku menikmatinya. Aku penikmat musik dan merasakan apa yang bergerak melewati telingaku ini adalah nada-nada indah, meski itu hanya sebuah derikan pedih tong yang dikoyak kucing kampung dengan kuku-kukunya.

Niskala kemudian kukenal lewat tulisan-tulisannya di novel pertamanya, Episode IV. Sekelumit nyanyiannya di Samantha Impossible Dream (SID) pun kudengar sesekali. Aku nyata mendengarnya dan itulah realita. Aku tak bisa menafikannya dan mungkin adegan tadi sama dengan apa yang barusan kutulis tentang pertemuanku dengan Niskala. Itu bukan realita. Tapi mengapa itu semua begitu nyata? Ataukah karena Morpheus bertanya padaku, “Apakah definisi yang nyata?”

Apakah harus ada beberapa kali de javu? Bahwa mungkinkah ...

Itu bukan realita. Lalu kutanya, “Apakah adegan itu tadi?” Nyatakah?

Lalu aku kembali mengingat-ingat. Benarkah aku mendapati itu semua dalam hidupku? Hidup yang mana?

= = = = * = = = =

Abnormalitas!

Untuk membuktikan bahwa aku tidak gila, aku langsung menemui Niskala. Ia berada di Bandung – setidaknya untuk saat ini. Kukatakan pada semua orang yang tinggal di kampung halamanku, bahwa aku tidaklah gila. Bahwa aku akan bertemu dengan Niskala dan berkata, “Aku adalah Sekala. Dan kamu adalah Realita!”

Degung sunda itu berdenting gema. Aku memenuhi hasratku untuk menjumpainya. Ini adalah mekanisme psikis yang dipengaruhi fisik dan spirit akan pancaran aura objek yang membuatku salah tingkah setiap ada orang yang bertanya, “Kau percaya takdir, Sekala? Kalau percaya, lalu apakah Arabmu harus dengan Arab dan apakah Acehmu harus di Aceh selalu? Bagaimana jika kamu ternyata ingin di Jakarta dan harus di Jakarta sesuai dengan kehendakmu. Apakah kamu bisa membuat langkah?”

Lamat-lamat aku mendengar Niskala yang bergumam diantara kepulan asap rokoknya, “Cih! Takdir itu sendiri harus diterjemahkan lagi. Takdir itu apa? Apakah itu ada? Jangan-jangan itu tidak ada. Jangan-jangan semua itu absolut dimiliki manusia. Bisa juga itu absolut dimiliki oleh Tuhan. Kita tidak tahu.”[1]

Lagi-lagi .... lagu Radiohead, The Tourist; menggelayut pikiran ..... “Ohhh ....slowdown .....slowdown ......” Aku harus menemui Niskala agar aku tahu bahwa aku dan dia adalah realita. Bisa kujabat tangannya, kupeluk tubuhnya, kucium, kurasakan dan kujamah pula. Meski nantinya itulah otakku yang merasakannya, tapi ruh ku akan berkata apa adanya. Apakah itu? “Ohhh ....slowdown .....slowdown ......”

Ini teks!

Aku merasakan kepuasan yang sangat karena berada di Bandung dan bertemu Niskala. Sebuah perasaan jouissance! Nikmat luar biasa! Pembicaraan diantara kita tidak sebanyak tulisan Tan Malaka di Madilog. Akan tetapi, ahhh!!! Intertekstualitas itu ada diantara kita berdua. Dan malam itu, di bawah sinaran bintang yang kemungkinan besar bintangnya pun sudah tidak ada lagi di jagad, menjadi saksi bahwa kata-kata yang keluar dari benak kita tengah bertautan dan menghasilkan janin yang akan membesar menjadi sebuah karya. Apakah itu akan diakui ataukah sebagai karya haram. Itu terserah apa kata pasar. Yang penting aku merekamnya dalam sebuah dokumen bernama Memori dan menorehkannya diatas papyrus Microsoft.

Di Bandung yang dingin itu, Niskala membuatku sedikit panas ketika ia menyanggah bahwa antrian manusia di warung makan itu adalah simulakrum. Ia mengatakan, “Itu simulasi untuk kita, sayang.” Bukan! Itu Simulakrum. Duplikasi dari duplikasi, karena yang aslinya tidak pernah ada. Yah! Tidak pernah ada apa yang namanya antrian mencari makan di sebuah kota besar. Setidaknya itu simulakrum ku. Dan mataku pun kabur karena melihat adegan semacam itu, lalu kukatakan padanya, “Aku tak mau makan.” Ego is mengatur realitasnya agar sesuai dengan realitasku. Aku berdosa padanya. Wajahnya yang melas itu, ternyata aku merindukannya meski baru beberapa detik aku palingkan muka.

Di warung makan yang ramai itu, aku tak melihat teks. Karena, yang kulihat saat Niskala makan, adalah matanya yang tertuju pada beberapa lauk di depannya. Aku tak melihat teks. Yang kulihat bahwa ternyata para astrologer ada benarnya ketika mengatakan bahwa seorang Taurus doyan makan.

Dan hingga malam itu, aku melihat teks.

Niskala membaca beberapa tulisanku tentang dirinya; bahwa aku berada dalam satu selimut denganya. Dan akhirnya benarlah bahwa ia memang menghabiskan malam dalam satu selimut denganku. Kismet! Kombinasi tanda-tanda visual dan verbal bersatu dalam satu atap bernama Ciwidey. Segala unsur bersatu di malam itu. Aku yang susah tidur, Niskala yang menemaniku dan anjing-anjing liar pegunungan yang guk guk nya kerap membuatku terperanjat.

“Ketika kau membaca separuh impianku tentang tidur dibawah satu selimut denganmu. Aku menyadari bahwa aku telah menuliskan tanda. Ini adalah sebuah unsur dasar semiotika yang diajarkan Boel, bahwa ketika tanda-tanda itu dikomunikasikan dengan mata, maka ia akan berubah anggukan dan aku mengikutimu dalam sebuah kamar dan disinilah kita. Di bawah satu selimut dan membicarakan Tuhan Yang Maha Mempesona”, kataku.

“Ya. Semua yang mengandung makna, mempunyai unsur bentuk dan makna. Penanda dan petanda. Agama dan Cinta. Tuhan dan Cinta. Sekala dan Cinta. Niskala dan Cinta. Untuk belajar semiotika, Boel tak menyuruh kita untuk belajar ilmu tanda, kode dan tetek bengeknya yang berguna bagi masyarakat. Tapi ia menyuruh kita agar bak Umberto Eco yang Tamasya dalam Hiperealitas”, jawabnya, “Bahwa ruang sudah tidak lagi melebar, akan tetapi semakin minimized. Seperti iklan sebuah handphone di TV, bahwa segala yang ada dirumah, bahkan rumah itu sendiri ada dalam single click!”

“Ya. Sama riil nya dengan ‘bahwa aku menggenggam dunia.”, jawabku santai.

Lalu ia duduk berdekatan sekali denganku hingga nafasnya pun terasa mengena bulu mataku, “Kamu tahu, Sekala? Di dalam dunia yang di genggam atau di lipat sekalipun, masih ada dunia yang lain lagi. Bahwa dalam atom pun masih ada yang terkecil lagi. Bisa jadi Sekala dan Niskala di dunia yang lain lagi itu masih bercinta, padahal Sekala dan Niskala di dunia yang lainnya lagi belum mengenal, tapi yang lainnya lagi masih tengah tamasya atau malah sudah memiliki beberapa anak.”

Aku tertawa kecil. Setuju padanya. Bukan sekedar pasrah; tapi aku pun juga menyadari itu. “Dunia Sekala-Niskala!!”, kataku setengah menjerit dengan mengepalkan tanganku ke atas sembari teringat Dunia Sophie. Jadi aku pernah merasakan sebuah realita dimana aku bertemu Niskala saat masih kecil dulu. Yah! Tak salah pula jika aku memiliki realita dimana aku bertemu dengannya saat umurku dua puluh lima atau mungkin di awal kepala dua.

Sungguh semangat sekali aku malam itu. Aku seolah ditemani sang prophet. Apalagi ketika ia mengatakan bahwa yang terpenting di dunia itu adalah profesi. Kedengarannya seperti prophecy.

Malam yang mengherankan. Di dalam tas ransel ku itu terdapat buku Marylin Ferguson yang berjudul “The Aquarian Conspiracy: Personal and Social Transformation in the 1980’s”; sebuah buku New Age yang selalu kubawa kemana aku melangkah agar aku mendalaminya dan bisa menyelesaikan tesisku. Tapi, malam ini, ada konspirasi lain lagi. Bagaikan kecipak gendang dan suara Nusrat Fateh Ali Khan .... “Allah hooo .... Allah hoooo”, aku tengah dihipnotis oleh seorang Taurus dengan Taurean Conspiracy-nya. Ia terus mengajarkan di malam itu bahwa jika menganggap bahwa Tuhan menciptakan alam ini, maka kita jangan melihat bahwa dunia diciptakan dengan pertentangan. Karena tidak ada Tuhan wanita dan Tuhan laki-laki. Satu saja. Satu!

Ya. Maka itu, malam itu aku satu selimut dengannya. Bahwa aku adalah sama dengan dirinya. Tidak ada oposisi duaan. Tidak ada pertentangan Barat dan Timur, Laki-laki dan Perempuan, Feminin dan Maskulin. Persis saat kita menyatu dengan Tuhan. Maka jelas kita tidak melihat itu seperti penyatuan dua buah jenis kelamin. Tidak menghasilkan anak karena berahi tidak dalam bentuk cairan saat itu. Ia masih berbentuk balok-balok logika. Tanpa kelamin. Meski Tuhan sering di gambarkan dengan sosok ‘him’ atau ‘huwa’, dan sifat-sifat maskulin, tapi sebenarnya ia tidak terikat dengan itu. Kalian salah dengan memakaikan pakaian bahasa (menurut Samuel Johnson itu adalah busana pikiran) ke Tuhan. Ia tidak bisa disimbolkan menjadi apapun. Tidak usah dibahasakan menjadi dua kutub. Korban bahasakah Ia? Jadilah Androgyne! Kun! Fa ya Kun!

Aku, yang malam itu di bawah satu selimut dengannya, bukan karena Libido. Meski kuakui saat aku sedikit terlelap, aku mengigau, “Kenalilah Libido mu sendiri .... kenalilah!” Dan libido ku bersama sesuatu yang tidak bertulang; lidah. Aku bernalar dengannya. Bermain dengan lidah dan mengeluarkan komentar. Dan itulah sililoquy – silently.

Niskala pun pernah memainkah lidahnya pada diriku – juga dirinya. “Jangan jadi lajang, karena nanti akan jadi jalang”, begitu katanya. Ini sama sekali bukan glossolalia; hasil racau karena pengalaman spiritual. Kadang kita merasakan bahwa di sekeliling kita terdapat banyak teks yang bisa dimaknai dan kita merasakan bahwa ketika aku mengatakan zelfology, aku tak sedang meracau atau sekonyong-konyong mampu berbahasa asing. Mungkin itu sebuah silent must be heard dan noise must be observed.

Itu bukan realita. Lalu kutanya, “Apakah adegan itu tadi?” Nyatakah?

Lalu aku kembali mengingat-ingat. Benarkah aku mendapati itu semua dalam hidupku? Hidup yang mana?

Abnormalitas! Is this the real life. Is this the fantasy ..... ohh escape from the reality. Open your eyes. Look up to sky and see. Niskalaean Rhapsody ...!

Oh mama ..... life is just begun! Do i have to throw it all away ...?

Dan aku begitu terus. Selalu bertanya. Ya! Lebih baik begitu. Selalu bertanya agar tidak sesat jalan. Karena selangkah demi langkah kita akan berhenti untuk melihat apakah ada teks dan mencatatnya untuk kemudian dimaknai agar bisa melangkah lagi. Dan mungkin satu sarung pedang akan masih tetap untuk dua buah bilah pedang; tumpang tindih dan masih akan mempertanyakan, “Yang manakah yang realitas?”

Valhalland, (sepanjang) 15 Desember 2004 dan 24 Maret 2005

Penulisan kembali kisah ini diiringi oleh:

“Do you dream of me”-nya Michael W. Smith dan “Painting in my mind”-nya Tommy Page.

Baca terusannya Sekala dan Niskala (An Alegory) di edisi entar-entar.



[1] Diambil dari wawancara antara Niskala dan Mayanina dalam “Episode IV: Sebuah Manuskrip”, oleh Ervin Ruhlelana (belum diterbitkan)

>>ariyantri

Nowhere Journey

Aku menemukan sebuah-entah apa bisa disebut demikian-manuskrip di sebuah meja kafe yang lampunya temaram apabila malam telah berada di atas panggung langit pada suatu malam ketika aku sedang mencari. Manuskrip itu tergeletak begitu saja dia atas meja, tak bertuan, ditemani oleh sebuah asbak yang telah penuh dengan puntung rokok, dan oleh beberapa gelas minuman yang telah kosong. Tak ada tanda bahwa manuskrip itu memang tertinggal. Aku berpikir bahwa itu sengaja ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya agar orang lain yang datang ke meja itu akan membacanya. Manuskrip-tapi di sampul depannya tertulis novel-itu terletak di atas meja, tidak mungkin itu tertinggal. Manuskrip-novel itu cukup tebal, belum dijilid dengan kertas ukuran A4 yang telah mulai robek-robek pinggirannya. Tampilan fisik yang cukup menyakinkan orang-orang bahwa itu adalah sebuah manuskrip baru yang telah ditemukan oleh seseorang.

Seperti yang telah kukatakan, aku menemukan manuskrip itu ketika aku sedang mencari. Ternyata aku menemukan manuskrip itu. Halaman-halaman dalamnya sarat dengan huruf-huruf yang berjuta dan merapat dalam kalimat-kalimat. Malam itu aku belum begitu berminat untuk mulai membacanya. Jadi aku meletakkan tumpukan kertas itu dalam tasku agar tidak tertinggal lagi. Kemudian aku memesan lemon tea ice yang murah dan banyak, walaupun rasanya seperti kencing kuda.

Sebuah SMS masuk ke handphone-ku. Jempolku menekan keypad paling kiri. Please wait dengan gambar bebek jalan di tempat di sebelah kirinya. 06.03.2004 19:58 +628156xxxxxx slmt bersng-sng dgn yg ada di dlm tasmu skrng! J

Aku tertegun sejenak kemudian memutuskan untuk menekan delete pada pilihan SMS.

Aku berjalan pulang sendirian. Malam telah memekat, mengukuhkan tirainya pada setiap sudut dunia, kekuasaan yang dalam beberapa jam akan digantikan. Perjalanan yang biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa, tidak ada orang yang mengejar karena aku membawa atau lebih tepat mencuri, sebuah manuskrip baru. Tidak seperti dalam buku The Celestine Prophecy yang melibatkan pengejaran seru di jalan. Tidak, ceritaku tidak se-Hollywood itu. Aku menghempaskan tubuh pada sofa kulit imitasi hitam. Melemparkan tasku begitu saja ke lantai. Meraih remote control yang tersungkur di samping sofa. Menyalakan TV keras-keras. Memindah-mindahkan channel. MTV. Sudut kiri bawah : tak terbaca karena tidak memakai kacamata; tulisannya terlalu kecil. Terlihat seorang laki-laki mengerang dan meraung tanpa henti dalam gaungan musik yang meracau. Entah ia meratap atau memuja-muji. Atau mungkin berdoa? Gaungannya meradang dalam telingaku. Mendesak gendang untuk menerima dan menguraikannya menjadi tanda dan simbol yang akan membantuku menemukan. Racauannya begitu menganggu. Aku melemparkan remote, berharap mengenai TV sialan itu, meraih bantal dan membenamkan kepalaku di dalamnya. Ternyata ratapan, puja-puji, (mungkin) doa itu semakin kuat mendesak. Ratapan seorang laki-laki tentang sesuatu yang tak tertangkap telingaku. Jeritan kemarahan entah kerinduan pada apa, entahlah.

****

aku menemukan pintu-pintu di hadapanku. pintu-pintu menuju ke entah-kemana. seperti dejavu. aku mengalaminya dalam mimpi. dan sekarang terjadi dalam nyataku. kupikir ini mimpi, tapi tanganku terasa sakit dan memerah setelah kucubit keras-keras untuk menyakinkan diriku sendiri. pintu-pintu ini mengelilingiku. mengepung dan menuntut untuk dipilih. aku ragu-ragu. tersesat di dalam sebuah dunia adalah hal terakhir yang kuinginkan.

kupilih satu pintu, dengan keraguan yang amat sangat. knop pintu terasa dingin. aku memutarnya dan mulai membukanya. kumasuki dan dunia ternyata gelap gulita. lalu tiba-tiba lampu menyala, dan aku seperti ada di padang rumput kuning, Lukisan Van Gough, Akira Kurosawa’s Dreams. well...turns out to be My Reality. kuning..cerah menyakitkan mata dengan langit yang tak bertepi. ada satu titik di kejauhan. seseorang. entah siapa. aku berjalan mendekatinya. dengan tangan pada pelipis menghalangi sinar matahari.

ah..Akira Kurosawa. sedang melukis dengan telinga terbebat perban lusuh. kutatap tanpa suara. ia tetap melukis tak peduli.

aku menatapnya lama, lalu bertanya,”kenapa kau memotong telingamu?” perlu kuingatkan di sini bahasa menjadi tak bermakna. kemudian laki-laki itu berkata, “yeah..(dengan style hip-hopers). kupotong telingaku karena aku tidak suka, man! what else?”

aku tercengang. “kau tak suka ?”

“yah.. telingaku buruk, man! kalau Van Gogh memotongnya karena dia tak bisa melukisnya dengan baik kan? me..? I just simply hate it.”

“apa yang kau lukis ?”

“aku..ngg..melukis apa yah? aku melukis wanita dengan vibrator khusus pada vaginanya. hahahahaha...”

“vibrator?”

“ya..agar dia bisa orgasme sendiri! begitulah.”

“hmm..fantasimu pada wanita?”

“tentu saja tidak! mana mau aku tidur dengan wanita yang punya vibrator sendiri pada vaginanya? jadi terlalu mudah.”

“jadi?”

“menampilkan mimpi wanita itu menjadi nyata.”

aku tercenung. ladang kuning itu merayapiku. laki-laki bermata sipit itu menggores-goreskan pensil acrylic-nya dengan kasar.

“eva..”

“apa?”

“eva..wanita pertama.”

“ya..?” kataku bingung.

“wanita pertama, yang tidak memerlukan penis karena dia bisa orgasme sendiri. hahaha...keren, kan?” dia tertawa-tawa dengan ganas dan melemparkan buku sketsanya ke mukaku. aku mengelak dan buku itu jatuh ke hamparan kuning, aku menatapnya. coretan hitam berbentuk wanita, ada tulisan eva pada perutnya, tepat di atas rahim. eva..?? kupandang laki-laki itu masih tertawa sinting. ia mulai menguning. celanalu mulai menguning. jemariku menguning. langit menguning. pandanganku menguning. aku ditelan kuning. terang. sakit. aku terpaksa menutup mata.

kepalaku terbanting ke lantai. dahiku berdenyut. aku membuka mata. warna kuning itu memudar.

****

aku pikir aku sudah mati. tapi ternyata tidak. dahiku memang sakit. agak benjol. ruangan ini cukup gelap. siapa? ada orang disana. tak jelas. kacamataku mana? oh..tertinggal dalam tas. orang itu menghampiriku. seperti hantu. seperti mimpi buruk dimana kau dikejar-kejar wanita kanibal pada sore hari yang kelam.

“eve..?” muncul sebuah suara. laki-laki. agak parau. terdengar langkah kakinya mendekat padaku.

“eve..?” tanyanya lagi. kemudian muncul di hadapanku seorang laki-laki, tanpa sehelai kain pun, dengan tangan pada penisnya. “oh..kukira kau eve. kemana dia pergi?”

“eva..?” tanyaku sambil mengusap-usap dahiku.

“eve..bukan eva.” jawabnya agak tak sabar dan mengaruk-garuk penisnya.

dari sudut gelap berlawanan arah dengan arah laki-laki telanjang itu datang, muncul sesosok mahluk. kupikir dia setan. ternyata rapper yang gemar menyumpah.

“hey dude..(pada lelaki telanjang)! where were you back then? she has already gone, man! you are too fuc**n late. you see what I’m saying? she is GONE, becoming into this, you know, a Bi**h, a fuc**n bi**ch doll. you can kiss it, lick it, F**K it, do anything you want with it. hahahaha...and you’re left here alone with all of this bulls**t all around you.”

“ya...ya..aku tahu. dia sudah menelan keduniawian itu? well.. perutku bermasalah tadi. jadi mau bagaimana lagi.” sahut laki-laki telanjang itu.

is that all you can say? you’re pathetic man! and what? you aren’t going to do anything? you can bet my a** that she’ll have the greatest moment of her life down there.”

is she the one with a vibrator on her vagina?” tanyaku dengan suara parau.

yeah..she’s the one. you knew her?” tanya rapper itu.

nope..I just heard about her a moment before I came into this place.” jawabku.

“benarkah? kau mendengar tentangnya? jika kau bertemu dengannya tolong salamkan salam sayang dariku. katakan maaf, aku tak bisa menyusulnya. perutku keburu sakit. dan semoga dia bahagia di sana.” laki-laki itu tersenyum setelah mengatakan kalimat itu.

“yah..akan kusampaikan bila aku bertemu dengannya. omong-omong...salam dari siapa yah?” tanyaku.

you’re so fu**in stupid! it’s from Adam..of course. who else?”

****

ternyata manuskrip ini adalah sebuah novel atau ternyata novel ini adalah sebuah manuskrip. tak ada nama penulisnya pada covernya. aku baru teringat pada SMS yang kuterima setelah aku menemukan manuskrip-novel-manuskrip itu. dan merasa menyesal, kenapa sms itu langsung kuhapus. padahal aku bisa menghubungi nomor itu untuk mendapatkan keterangan tentang manuskrip-novel-manuskrip itu. aku menghabiskan waktuku untuk membaca halaman demi halaman manuskrip-novel-manuskrip itu. tv-ku rusak. ternyata lemparanku kena telak pada layarnya. lembar-lembar ke-absurd-an itu akhirnya menghiburku. menelanku dalam ketersesatan yang berkepanjangan tanpa akhir yang jelas. membawaku ke dalam dunia baru dengan visualisasi yang berbeda sama sekali dengan yang kusaksikan di dunia yang kupijak sekarang. pintu-pintu yang akan mengarahkanku ke entah-kemana hadir dalam mimpi yang telah berselingkuh dengan realita. aku bergelung dalam kungkungan kata-kata yang mungkin tidak berkata jujur. aku tersesat.

****

aku memajang lukisan eva dengan tanda tangan pelukisnya pada dinding kamarku. dahiku masih benjol. tv-ku masih rusak. kertas-kertas manuskrip-novel-manuskrip itu berserakan di atas karpet kamarku. telah lama rasanya sejak pertama aku bersetubuh dengan semua teka-teki dan jalan rumit yang ditawarkannya padaku. pemahamanku akan makna dan pendustaan kata-kata. kata-kata telah menjadi jalang dengan meniduri dusta sebagai kekasih barunya. waktu telah berkhianat dan meninggalkanku sendiri dalan ketakberhinggaan. aku dibiarkan berputar-putar dalam lingkaran yang satu tapi terpecah menjadi ribuan kemungkinan. mungkin sekarang aku sudah gila. melepas kewarasan mengejar ilusi. seperti sekarang aku harus berkutat dengan kata untuk memunculkan makna. hilangkan kata..hilangkan makna. biarkan aku dalam keabadian ini. seperti Adam yang terjerat dalan kenikmatan surganya. kamar ini makin lama makin senyap.

****

erangan seorang laki-laki di kejauhan. seorang laki-laki mengerang dan meraung tanpa henti dalam gaungan musik yang meracau. Entah ia meratap atau memuja-muji. Atau mungkin berdoa? dejavu. lagi. lama-lama aku bisa sinting mendengarkan bunyi ini. bukankah tv di rumahku telah rusak? kenapa suara ini masih bisa keluar ke permukaan dan merambat ke telingaku. dari mana?

aku berjalan terhuyung-huyung menuju sumber suara. ada sebuah panggung. sepi. kosong hanya terisi oleh suara racauan tanpa henti itu diiringi dengan petikan gitar yang terdengar sempurna di telingaku. erangan laki-laki itu ternyata berasal dari speaker yang berada di kanan-kiri seorang laki-laki yang sedang menunduk memetik gitar. laki-laki yang berambut potongan penyanyi british, seperti memakai wig ditarik sedikit ke depan.

aku berdiri di hadapannya. dia mengangkat kepalanya.

“Namaku Karna. aku adalah telinga. Niskala melulu mulut.”

“...aku mencintainya. dia adalah groupie Niskala. tidur dengan Niskala dan berpacaran denganku..”

Karna menunduk kembali. sibuk dengan gitarnya lagi. tiba-tiba dia menggumamkan sesuatu. aku berusaha mendengarkannya, dan dia bergumam:

aku dan engkau adalah satu

dan dicerminkan dari cinta Tuhan

kita adalah satu jiwa yang terbelah

dan takkan menyatu kembali

sebab Tuhan telah cukup membuat kita

merasa menjadi diri-Nya...

****

televisiku tiba-tiba menyala dengan layarnya yang terbelah dua. video klip sialan itu lagi! tapi ini tanda dari Tuhan, seperti kata seorang teman. laki-laki yang sama, yang bernyanyi dengan erangan dan raungan yang sama. menyakiti telingaku dengan cara yang sama. ada seorang wanita dalam video klip, dipeluk oleh sang vokalis. awalnya aku tak mau memperhatikan karena sibuk mencari remote tv untuk mematikan suaranya yang mengganggu. setelah pencarian yang gagal, aku akhirnya memilih untuk duduk di sofa kulit hitam itu. aku menatap wanita dalam video itu. mirip dengan seseorang yang kukenal. aku tahu siapa itu. itu aku!

****

Niskala menyodorkan tangannya.

“Namaku Niskala!” katanya

“Niskala? oh..nevermind.”

“nevermind..., tak usah peduli?”

“ah..ya tapi..”

“Nama yang lucu! Misterius!”

“tapi...”

“Aku suka revolusi, apalagi yang terjadi dalam hidupku pribadi.” kata Niskala sambil menawariku popcorn. aku meraih segenggam pop corn. “aku tahu dialog ini..” kataku pelan. laki-laki di hadapanku tak peduli dan meneruskan bicaranya. “Tidak harus! sebab tidak ada hidup baru, masa lalu dan mendatang. semuanya adalah.....”

“Bagian dari hidup yang tidak bisa dipisah-pisahkan..” aku memotong monolognya.

laki-laki yang mengaku bernama Niskala itu terdiam karena omongannya terpotong. entah karena terkejut atau marah. sambil mengunyah pop corn, aku berkata dengan sebal,”Kamu Niskala yang bernyanyi seperti orang gila itu kan? dengan Samantha Immposible Dream-mu itu kan?” laki-laki itu memandangku dengan aneh.

“ya betul..” ia berkata hati-hati.

“bagus..! aku menantikan saat ini. ada yang ingin kuberitahukan padamu. satu: berhentilah bermusik karena musikmu membuatku gila dan tersesat, dua: carilah wanita yang benar, tiga: sadarilah bahwa kau gila dengan Karna-mu itu, dan empat: aku menunggu kematianmu.”

Niskala tersenyum dan berkata, “untuk seorang nevermind, kau cukup peduli. tenang saja. aku sudah tahu semua hal yang kau katakan padaku. termasuk ketersesatanmu dalam pintu-pintu itu kan? termasuk apa yang kau lihat sebelum kau masuk ke dalam dan mengalami ini semua.”

“bagaimana kau mengetahuinya?”

Niskala tersenyum jahil, “let’s just say...aku dapat bocoran dari cumbuan semalam.” aku bingung. Niskala masih tersenyum. dia mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya. “seperti yang kau inginkan.” dia menaruh moncong senjata itu di belakang kepalanya, menarik kokangnya, dan menekan pelatuknya. ada bunyi ledakan sesaat. aku dapat mencium bau amis darah. wajah dan tubuhku tertutup darah dan pecahan tempurung kepalanya. Niskala ambruk dengan seringai tetap pada wajahnya. pop corn masih meletup-letup di ujung sana. =***=

bandung, 09 Maret 2004 13.45; sebuah adaptasi dari novel episode IV.

Sunday, June 25, 2006

>>fati soewandi

SAM, KELAMINKU TERANCAM

PROLOG
NISKALA:
Sam, kelaminku terancam…
Memang susah menjadi lelaki sejati, jika itu maumu. Sebelumnya, aku tak pernah dituntut untuk menjadi lelaki sejati. Lelaki yang mampu mengerti perasaan lawan jenisnya (dan sesama jenisnya). Aku hanyalah lelaki yang menyadari ‘besar’ kelaminnya bagi kepuasan lawan jenisnya (dan sesama jenisnya). Itu adalah hal yang ‘santun’ dalam perjalanan bercintaku. Kau tahu kan, Sam, keluarga angkatku adalah keluarga pemerkosa. (Tapi bukan sebenar-benarnya pemerkosa, sebab tak ada yang terpaksa dan dipaksa dalam pemerkosaan itu.) Ibu angkatku memerkosa keremajaanku, kemudaan naluri bercintaku, agar—layaknya seorang ibu—aku bisa menjadi tua bagi perjalanan bercintaku kelak. Saudara-saudara perempuan angkatku memerkosa keremajaanku pula, ketakmatangan sifat perempuanku karena aku, lelaki, sejatinya budak bagi perempuanku nanti. Dan ayah angkatku memerkosaku untuk kebaikan sesama lelaki, bahwa seorang lelaki harus bisa ‘menggagahi’ lelaki lainnya sebagai buktinya menjadi tangan (T-t)uhan di dunia ini. Selanjutnya, barulah kemudian aku berani, sendiri, memerkosa adik angkatku untuk menularkan kepadanya tentang wujud moral sebuah pelajaran pemerkosaan. Itulah aku, Sam, dan kelaminku.
Tapi, setelah mencumbumu, aku tergagahi. Kau tak tahu tentang hal ini kan, Sam? Inilah satu-satunya rahasia yang setia menyalakan libidoku setiap kali kita bercumbu. Aku, sesungguhnya, adalah budakmu. Aku balonmu. Aku menyerah pada(M-m)u.
Aku sudah mati sekarang, Sam. Dan inilah pemberkatan bagi hati paling gigil di dunia ini. Aku yakin bahwa kau, dan semua orang yang tahu aku, pasti takkan pernah percaya jika aku benar-benar mengucapkan kata-kata itu. Satu yang mereka yakini adalah bahwa aku—sang penggila senggama—sudah benar-benar lenyap dari muka bumi ini, dan itu pasti merupakan karmaku atas prosesi bunuh diri yang dilakukan oleh para penggemarku. (Mereka juga penggemarmu, Sam, pada akhirnya.)
Kau pasti mencibirku, Sam. Tentang gaya bicaraku, tentang jalan pikiranku, tentang arus pembicaraanku, tentang segalanya, setelah sebuah akhir ke’besar’anku sendiri. Tapi aku tak peduli. Tidak sama sekali! Aku menjadi BESAR karena(N-n)ya, Sam.
Aku, akhirnya, bertemu Tuhan. Dan bercinta denganNya! Sungguh, aku tahu ini akan terjadi padaku. Maka dari itu, aku telah jauh-jauh mempersiapkannya dengan rapi. Seperti yang kukatakan pada wartawan seksi tapi sok jual mahal itu—Mayanina—bahwa telah kutakdirkan kematianku sendiri pada usia 25 tahun. Usia yang mematikan. Seorang nabi besar dimatikan pada usia itu. Dan semua orang percaya bahwa dia satu-satunya orang ’besar’ terakhir yang mati dan bertemu Tuhan pada usia itu. Mereka salah besar, Sam! Setelah mayatku ditemukan, mereka akan meralatnya di headline-headline surat kabar terkemuka dan terpelosok dari seluruh penjuru dunia. LELAKI ‘BESAR’ TUHAN YANG KEDUA TELAH TIADA!
SAMANTHA:Sam, kelaminku terancam…
Melulu kalimat itu yang keluar dari mulutmu. Kaukira aku tak bosan mendengarnya? Aku juga, Nis! Kelaminku juga terancam: oleh kelaminmu! Kelamin yang semata memuja ke’besar’an. Dan setiap kali aku menyadarinya, aku merasa mau meletus.
Meladeni cumbuanmu bukan sekedar menghidupi penggetarku, Nis. Itu sama saja memberiku kesempatan untuk menjadi mahakarya kelaminmu. Satu nafsu lagi, aku menjelma nabi. Dan tak perlu lagi menggagahimu.
INTERMEZZO
IF:
Sam, kelaminku terancam…
Selalu itu yang kudengar setiap igau Niskala selama kami bersenggama. Huh, Niskala memang luar biasa, bahkan super biasa. Dan, ya, setan …… buahkuldinya itu lho matangnya bukan main.
Aku harus meninggalkan impian mustahil Samantha demi kelaminmu, Nis. SID, Samantha Impossible Dream, ingat kan? Sebab kupikir impian itu pada akhirnya akan menjadi riil, dan aku akan kaucampakkan (meski aku tahu itu tak mungkin kaulakukan). Aku akan berjasad dua di ranjangmu. Ada jasad Samantha juga tengah kaucumbu dalam mimpi yang tak pernah basah. Dan aku tak mau itu lantaran aku adalah perempuan pertama mahakarya Tuhan, maka tak ada yang bisa menyamaiku.
Bukan aku kan yang mengancam kelaminmu, Nis? Aku tahu betapa senggama memberimu inspirasi untuk menciptakan lagu serupa sabda. Dalam senggama kita, kau temukan wahyu, katamu, Nis. Lantas sekarang (si)apa yang mengancam kelaminmu?


CERIO:
Sam, kelaminku terancam…
Aku juga akan mengatakannya padamu tentang hal ini, Sam. Meski kau telah menjadi istriku saat ini, aku tak akan memungkiri bahwa kelaminku juga terancam. Hidupku pun jadi taruhannya. Tapi, tenanglah, cinta takkan pernah menjadi jawabnya, jawaban dari segala keterancaman atas kelaminku ini. Kenapa? Karena cinta itu mimpi, dan mimpi itu ilusi belaka!
Itu pula yang menyulut perceraianku dengan Termina. Kami (terlalu) bermimpi tentang sebuah akhir percintaan. Kami tak pernah peduli tentang sebuah akhir kehidupan, sebab itu bukan urusan kami. Kami diturunkan ke muka bumi ini untuk bercinta, jadi kami sangat peduli tentang sebuah akhir percintaan. Seperti apa itu, Sam? Kau mungkin pernah membersitkannya dalam benakmu, benak balonmu yang sewaktu-waktu mengembang dan kadang-kadang mengempis.
Ikatan pernikahan tak bisa kaubilang sebagai sebuah akhir percintaan. Itu bencana percintaan. Terlalu banyak yang harus dikorbankan untuk membayar beribu keterancaman. Aku tak bisa menyebutnya satu per satu, sebab itu hanya akan lebih memerihkan kelaminku.
TERMINA:
Sam, kelaminku terancam…
Mungkin aku seperti dirimu. Saat kau kehilangan Joey dan rasuk oleh ke’besar’an Niskala, maka aku kehilangan Cerio dan rasuk oleh ke-entah-an Karna. Kau adalah aku, Sam. Semua makhluk yang berpenis sangat menginginkan aku, dan kau pastinya.
Cerio tetap menyetubuhiku melalui dirimu. Kau akan melihat wajahku dalam matanya. Menyorot nyalang setiap kepayang kelamin kalian.
Bercerai dengan Cerio, lalu bercinta dengan Karna, membuatku rapuh. Jangan samakan aku dengan If, yang kelaminnya (hanya) untuk Niskala.
KARNA:
Sam, kelaminku terancam…
Aku harus bilang senang atau bimbang? Bagaimana menurutmu, Sam?
Aku selalu menjadi telinga (bagi) Niskala. Selama ini aku tak pernah berujar. Hanya mendengar semata. Desahan, rintihan, hiruk ranjang. Aku tak pernah bilang desah Niskala terlalu naif, atau rintihanmu, Sam, sangat racun.


EPILOG
NISKALA:
Sam, kelaminku terancam…
Kau tahu kenapa?! Karena surga! Apalagi? Tuhan memberiku perintah: melepas ke’besar’anku. Ia tak mau kebesaranNya tersaingi. Jika benar-benar kuturuti, maka aku mendapat surga—tempat para pesakitan ibadah pulang menyemayamkan gemuruh pamrih mereka pada pahala terpurba: sebuah kelamin (lagi!).
SAMANTHA:
Sam, kelaminku terancam…
Aku masih sanggup, Nis, untuk menggagahimu dengan kelaminNya.
Aku If. Aku Termina. Aku Samantha (?)
Surabaya 2004

Sunday, April 16, 2006

mulai sekarang loe bisa dapet novel EPISODE IV secara utuh dan gratis di:
go get them! and don't forget to reply, comments and critisisims...
or phone:
+628154633844
thank's!
NOTE: to see my profile, please visit my friendster 'APENK-INSIDE' or the e-mail above...
regards
ERVIN RUHLELANA

Sunday, August 08, 2004

everyone can be angel

dance now
wasted youth
for you waited too long
for silent is only a half song

this is the time when satan and saint no longer be separated
when religion no longer tamed you
when humanity no longer include you

ok,
be an angel
kindle those candles
recreate those miracles

Friday, March 05, 2004

coba kau tulis tentang aku, niskala...!