>>Raymond Airlangga
EPISODE LAIN UNTUK EPISODE IV
(Tribute for Episode IV)
Aku mengenalnya. Itulah jawabanku ketika aku duduk tenang mendengarkan cerita panjang lebar yang diceritakan oleh
Joey. Pemuda putih dengan rambut sebahu, hampir mirip
bintang-bintang sinetron yang memenuhi layar kaca, pemuda
idaman dan sempurna bagi mata para wanita. Kulit putih,
tubuh tegap dengan otot dan tinggi proporsional dan
mungkin juga penis besar. Hei, ini zaman posmo bung!
Aku menyimak ketika Joey bercerita bagaimana ia bercinta
dengan Samantha, wanita yang dikaguminya, tentang
bagaimana wajahnya yang cantik, campuran banyak etnik,
tinggi semampai, bibir merah muda alami, hingga vaginanya
yang ranum dan harum, mungkin karena obat di iklan. Aku
menyerap kalimat-kalimat kotor yang diucapkannya. Tidak,
aku tidak jijik karena akulah yang menanamkan itu pada
satu buah bewarna keemasan di pojok surga.
Namaku Lucifer, Tuhan membuatku dari api dan menciptakan
Malaikat lain dari cahaya. Cahaya adalah wujud dari
eksistensi api, lalu apakah Gabriel lebih rendah dariku?
Tapi pedang agung Michael yang bersinar selalu membuatku
mundur, menyilaukan. Sebelum Tuhan punya sebuah naskah
drama tentang manusia hidupku tenang beserta mahluk-mahluk
lain. Tuhan adalah sosok yang sangat adil dan bijak. Tuhan
adalah Sang Yang Maha. Itu sebelum Beliau berkeinginan
menciptakan manusia. Ketika Tuhan melontarkan
keinginannya, aku menggelengkan kepala. Beliau
mengada-ada, itu pikiranku. Bahkan Gabriel berkata, apakah
Anda ingin menciptakan pertumpahan darah?1 Aku sependapat
dengan Gabriel saat itu. Cerdas juga ia sebagai Malaikat.
Tetapi Tuhan tetap dengan pendirianNya. Arogan, bisikku,
aku yakin Beliau mendengarnya, tapi tak apa, pikirku.
Setelah itu Manusia diciptakan dari unsur-unsur bumi dan
langit. Ia diberi pengetahuan dan disahihkan sebagai
mahluk paling mulia. Seluruh Malaikat termasuk aku diminta
untuk sujud kepadanya. Mungkin saat itu timbul ego dalam
diriku dan tak mau sujud padanya. Boss marah besar saat
itu dan mengusirku. Beliau mengutukku tinggal di neraka
akhir nanti, dan kuterima saja. Aku tak dapat menolak
karena toh Ia yang menciptakanku. Sudah beruntung aku
tidak dibunuh olehNya.
Namaku Lucifer. Aku adalah Malaikat yang memberontak
karena Boss kuanggap mengada-ada dan mungkin iseng
menciptakan manusia. Pertama Adam, lalu Eva, kemudian Kain
dan Habel. Dan semua berjalan sesuai dengan skenario yang
Beliau buat, panjang, berhalaman-halaman kisah tentang
manusia. Kami, para mahluk surga dan neraka tidak pernah
mengetahui kapan kisah manusia ini akan selesai. Isrofil
hanya duduk-duduk menikmati liburannya sedang temannya
Izroil keliling mencabut kembali nyawa manusia. Seperti
juga Malaikat lain, Tuhan dengan baik hati memberikan
kelebihan kepadaku. Ya, aku diberikan kelebihan dan semua
kutanamkan pada satu buah keemasan di pojok surga, dekat
sungai susu. Aku memberikan semua gagasan yang aku punya.
Gagasan tentang membunuh, bersetubuh, membuat khamar, judi
kartu dan segala sesuatu yang mengumbar nafsu manusia.
Aku membujuk Eva untuk memetik dan memakannya. Eva
tergiur oleh keindahan khuldi dan merajuk kepada Adam
untuk memetiknya (Kelak semua wanita akan kagum pada
benda-benda yang menyilaukan matanya).
“Jangan Eva, Tuhan melarang kita untuk memetik, apalagi
memakan buah ini”. Adam marah-marah. Eva mendekatkan
wajahnya kepada Adam, menciumnya panjang hingga lidahnya
masuk ke rongga mulut Adam, lama.
“Akan kutukar dengan cinta.” Dan cinta membunuh
segalanya. Kata siapa Adam pintar? Ia takluk oleh wanita.
Ia memilih godaan wanita daripada ketaatan kepada
Tuhannya. Bukankah laki-laki yang harus menaklukan wanita.
Joey setuju dengan pendapatku. Ia juga mendengarku dengan
cukup baik. Aku beruntung dapat bercakap-cakap dengannya.
Aku bertemu dengan Joey sewaktu Izroil selesai mencabut
nyawanya dan hendak di bawa. Di kehidupan dunia ia adalah
manusia yang menggunakan gagasan-gagasan milikku demi
kesenangannya. Ia meminum khamar, berjudi, bersetubuh
dengan wanita, yang mana saja, kecuali ibu dan neneknya.
Bahkan ia bercinta dengan adiknya, namanya Jihan. Terakhir
aku lihat ia bunuh diri. Peluru bersarang di tempurung
kepalanya. Aku membujuk Izroil untuk memberikan kesempatan
kepadaku sedikit bertanya pada Joey. Izroil memberiku
kesempatan. Aku ingin memberi tahunya beberapa hal, bahwa
Samantha masih mencintainya. Ia datang ke kubur Joey dan
menciumi nisannya.
“Biarlah, ia bukan Samantha, minimal tidak seperti
Samantha yang kukenal2”. Itu alasannya.
“Dengar, Tuhan menciptakan mahluk berpasangan. Itu
sabdaNya. Mungkin Samantha adalah jodohmu. Kau seperti
mengulang kisah lama. Seorang Bani Israil, ia bernama
Onan. Pemuda itu masih perjaka dan mencintai seorang
gadis. Tetapi keluarganya malah menjodohkan dengan seorang
gadis lain, yang tidak dicintainya. Maka sebelum hari
perkawinan, ia memberontak, ia melakukan masturbasi. Bisa
saja Samantha jodohmu lalu kamu menolaknya dan bunuh diri.
“Anda malaikat?” Tatapan Joey tampak berbeda.
“Bukan. Aku Iblis.” Joey mundur beberapa langkah.
“Bukankah Iblis adalah sosok merah dengan trisula di
tangan? Bukankah Iblis adalah sosok yang menjijikan? Tapi
wajah anda seperti manusia?”
“Kamu terlalu banyak menonton Iblis nak. Atau para
pendeta mengambarkanku agar kalian, para manusia takut
kepadaku. Iblis hampir sama dengan Malaikat. Mereka
awalnya adalah penghuni surga juga, mungkin kau pernah tau
dari khotbah minggu.”
“Maaf, saya jarang ke gereja selama hidup.”
“Itu sebuah pilihan nak. Seperti juga engkau memilih
antara surga dan neraka.”
“Lalu mengapa anda mendatangi saya?” Aku hanya tersenyum,
menimbulkan pertanyaan panjang dari Joey.
“Aku hanya ingin tau, mahluk seperti apa yang digilai
oleh Samantha, hingga ia datang, dan mencium nisanmu, hei
anak muda.”
“Lalu?”
“Tidak, aku hanya teringat catatan panjangmu yang sering
bersetubuh dengan wanita, termasuk adikmu. Lalu datang
Samantha, gadis itu mencintaimu. Ia adalah satu-satunya
wanita yang datang ke makammu dan menciumi nisanmu
berulang-ulang.”
“Gadis itu narsis. Ia mencintai daerah sensualnya lebih
dari aku. Kadang ia memilih masturbasi setelah selesai
bercinta denganku. Aku tak tahu. Aku sering bertanya pada
Tuhan mengapa ia menciptakan banyak wanita untuk kunikmati
tetapi mengapa Samantha yang jatuh cinta kepadaku.” Aku
tertegun, lama.
“Kau pernah bertanya pada Tuhan anak muda?” Joey
mengangguk.
“Yang kudengar dari sekolah minggu, atau teman-teman yang
pulang dari sembahyang Jum’at, Tuhan berbuat dengan
caraNya. Cara-cara yang terkadang ada di luar nalar kita.
Keajaiban. Itu mengapa aku tak pernah bertanya pada
Tuhan.”
“Tuhan dapat melakukan apa saja. Beliaulah yang
menciptakan aku, malaikat, bahkan kalian, para manusia
rendah yang hanya terbentuk dari daging, darah dan sperma.
Lalu Tuhan mengirimkan ruh, sekali lagi dengan CaraNya.
Aku punya sebuah cerita anak muda. Sekitar seratus tahun
lalu, ada seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang
gadis. Ia memuja gadis itu laksana putri. Tiap malam ia
berdoa agar Tuhan membuka hati gadis itu untuknya. Karena
ia begitu mencintai gadis itu, dari dalam hati yang paling
dalam. Ia bersinar ketika bersama si gadis dan redup
tanpanya. Mungkin kau pernah mendengar apa yang terjadi
pada mereka.” Joey menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Pemuda itu bernama Angga, dan gadis yang dicintainya
adalah Maya. Pemuda itu akhirnya tidak mendapatkan cinta
si gadis karena Maya menikah dengan orang lain, yang
dicintainya. Pemuda itu memutuskan untuk melajang seumur
hidupnya, sampai ketika Izroil mencabut nyawanya. Ia tidak
dapat lagi jatuh cinta. Doanya hanya satu, dan itu untuk
kekasihnya, Maya. Semoga ia berbahagia dengan pilihan
hidupnya.”
“Lalu Maya?”
“Maya? Maya bahagia karena menikah dengan pemuda yang
telah membuatnya jatuh cinta. Ketika cinta jatuh di
kepalanya, ia berdoa pada Tuhan semoga pilihannya tepat.
Tetapi pernikahan adalah jawaban salah yang diambilnya. Ia
selalu disiksa suaminya, dengan fantasi-fantasi seks liar.
Maya tersiksa, stress, kemudian depresi, dan hampir gila.
Berulang kali ia melakukan usaha bunuh diri. Memotong
nadinya, meminum racun serangga, bahkan menggantung
lehernya. Tapi Tuhan menghendakinya tetap hidup. Izroil
menanti usianya uzur sebelum mencabut nyawanya.”
“Dan seterusnya?”
“Kau sudah tau anak muda. Tuhan berkehendak dengan
caraNya. Cerita-cerita seperti Onan, seperti Angga, dan
mungkin engkau dan Samantha hanya akan menjadi catatan
sejarah dunia yang tidak akan diingat siapaun, kecuali
aku. Tapi cerita tetap berlanjut, skenario dari Tuhan
tetap akan berjalan. Kalian hanyalah debu-debu
dihadapanNya. Sementara Ia tetap Yang Maha.” Keduanya
terdiam lama. Mungkin sudah bertahun-tahun waktu bumi.
“Lucifer, mengapa anda memberontak? Bukankah jika engkau
tidak memberontak manusia masih berada di surga? Jika
manusia berada di surga maka segala keinginan mereka akan
terpenuhi dan mereka akan berbahagia.”
“Mungkin. Pernahkah terpikir jika aku tidak memberontak
akan seperti apa? Tapi inilah takdir. Akupun tidak tahu
mengapa aku tiba-tiba memberontak. Mungkin egoku
tersentuh, menganggap aku lebih mulia dari Adam. Tapi
mungkin juga ini skenario dari Tuhan. Apakah engkau yakin
jika Adam dan Eva tidak memetik buah yang keemasan itu
lalu memakannya, mereka akan tetap berada di surga?
Sedangkan Gabriel pernah berkata ketika Tuhan masih
menyimpan Adam dalam ideNya, apakah Tuhan akan menciptakan
pertumpahan darah di bumi? Jika demikian bukankah mereka
akan turun ke bumi suatu saat nanti?”
Joey, terdiam. Entah berapa tahun di bumi dan Samantha
sudah tua. Lucifer tau itu dan mengajak Joey untuk
melihat-lihat bumi. Perempuan paruh baya duduk di kursi
goyang. Menekuni sulaman pakaian kain berbahan wol.
Sepertinya menyusun sebuah kata. Raut wajahnya berbeda
ketika terakhir kali Joey melihatnya merengek karena
dahaga oleh kepuasan yang biasa didapatnya. Joey
mengacuhkannya. Joey pergi, dan peluru bersarang di
otaknya
“Siapa dia dan mengapa kau ajak aku ke sini.” Lucifer
tersenyum. Jubah hitamnya melambai walau tak berwujud di
dunia nyata.
Dialah Samantha. Samantha yang sama yang bercinta
denganmu, juga Samantha yang sama dengan yang merengek
mengharapkanmu, dan Samantha yang mencintaimu.”
“Lucifer, adakah ada bidadari di neraka?” aku tersenyum.
“Harus ada sebuah keseimbangan dalam kehidupan. Kehidupan
dunia dan alam yang lain. Jika kita kesulitan di dunia dan
selalu mengingat Tuhan. Maka Tuhan akan menyiapkan tempat
di Surga. Sebaliknya jika kita terlalu bahagia di dunia,
maka banyak waktu yang akan dilewatkan di neraka. Dan di
neraka tidak ada bidadari. Mahluk cantik itu enggan masuk
ruangan bau, pengap, panas dan mengerikan itu.”
“Lalu neraka?”
“Jangan bertanya tentang neraka kepadaku nak. Nanti kita
bertemu lagi, dan merasakan tinggal di sana. Jika Tuhan
berbaik hati, ia akan menempatkanmu nanti, pada waktunya.”
Aku pergi, meninggalkannya, satu malaikat kemudian
membawanya entah kemana. Dan Samantha.... Samantha
akhirnya mati pada usia tujuh puluh lima. Setengah abad
setelah Joey mengakhiri hidup dengan sebutir peluru di
otaknya.